BMW kembali mendominasi pasar mobil mewah Amerika Serikat setelah menyalip Lexus dalam penjualan kuartal ketiga 2025. Berdasarkan laporan Automotive News pada Sabtu (11/10/2025), merek asal Jerman itu unggul tipis dengan selisih 5.277 unit, menandai kembalinya BMW ke puncak setelah sempat disalip pada kuartal sebelumnya.
Selama periode Juli–September 2025, BMW mencatat penjualan 96.886 kendaraan, sementara Lexus menjual 91.609 unit. Keberhasilan ini menjadi titik balik penting bagi BMW di tengah persaingan ketat merek-merek premium dunia.
Menurut analisis Edmunds, strategi peluncuran dini model tahun 2026 menjadi faktor kunci percepatan BMW. Sekitar 51% pengiriman BMW pada kuartal ini berasal dari model 2026, jauh di atas Lexus yang hanya 4,8%. “Seperti kura-kura dan kelinci, BMW dan Lexus menempuh jalur berbeda menuju kesuksesan,” ujar Ivan Drury, Direktur Analisis Edmunds.
BMW mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 25% year-on-year, didorong lonjakan permintaan pada model plug-in hybrid (PHEV) dan crossover. Penjualan PHEV naik 37%, menutupi penurunan 16% di segmen kendaraan listrik murni (EV).
Fokus BMW pada kendaraan hybrid terbukti efektif. Model seperti Seri 5, X5, Seri 7, M5, dan XM menjadi tulang punggung pasar. “Penurunan produksi pada Mei dan Juni sempat menekan penjualan EV, namun setelah program subsidi berakhir, penjualan EV BMW melonjak lebih dari 30% pada September,” kata Shaun Bugbee, Wakil Presiden Eksekutif BMW Amerika Utara.
Inventori kendaraan listrik BMW kini hanya tersisa 28 hari, turun drastis dari 65 hari di pertengahan tahun — menandakan permintaan yang kembali menguat.
Sementara itu, Lexus membukukan kenaikan penjualan 13% dibanding tahun sebelumnya, berkat dua model SUV andalan: GX dan TX. Penjualan GX naik 35% menjadi 28.244 unit, sedangkan TX melonjak 86% menjadi 39.546 unit setelah masalah airbag di model lama terselesaikan.
Wakil Presiden Penjualan Lexus AS, Shawn Doeraracki, mengungkapkan bahwa sekitar 70% pembeli TX adalah pelanggan baru bagi merek tersebut. “Sebagian besar adalah pengguna mobil dari merek populer yang naik kelas ke Lexus,” katanya. Pabrikan Jepang itu menargetkan rekor penjualan tahunan sekitar 355.000 kendaraan pada 2025.
Di bawah dua pesaing utamanya, Mercedes-Benz mencatat penurunan penjualan 13% menjadi sekitar 73.500 unit. Penurunan ini dikaitkan dengan tingginya angka penjualan tahun lalu saat pasokan menumpuk di paruh kedua 2024.
Meski begitu, penjualan kumulatif sembilan bulan pertama tahun ini naik 6% menjadi 223.800 kendaraan, cukup untuk melampaui total penjualan periode yang sama tahun sebelumnya. Bart Herring, Kepala Penjualan Mercedes-Benz AS, mengatakan bahwa kuartal IV tidak akan sepenuhnya mencerminkan permintaan EV riil, namun pihaknya melihat banyak pelanggan yang kembali mencari model listrik baru.
Secara keseluruhan, pasar mobil mewah AS tumbuh 4,5% pada kuartal ketiga 2025 dengan total 518.353 unit terjual. Audi mencatat hasil stabil dengan 46.758 kendaraan, sementara Cadillac melonjak 25% berkat ekspansi lini kendaraan listriknya.
Volvo turun 8,8% menjadi 26.021 unit, meski penjualan EV-nya meningkat 71% berkat model EX30 dan EX90. Genesis naik 6,7%, sedangkan Infiniti turun 9,6% dan Porsche melemah 4,9%, menandai dua kuartal berturut-turut penurunan.
Dengan keunggulan dalam strategi peluncuran model baru dan manajemen stok yang efisien, BMW kini berada dalam posisi kuat menjelang kuartal terakhir 2025. Di sisi lain, Lexus dengan portofolio SUV yang agresif dan kecepatan penjualan tinggi berpotensi mengejar kembali.
Pasar mobil mewah AS diperkirakan akan tetap kompetitif, terutama di tengah perubahan kebijakan tarif dan insentif kendaraan listrik. Mercedes-Benz, Cadillac, dan Volvo juga tengah mempercepat transisi ke mobil listrik, menjadikan akhir tahun ini fase penentu dalam perebutan dominasi pasar premium AS.






