Penjualan Toyota global mencatat pertumbuhan 2,8 persen pada September 2025, ditopang oleh permintaan kuat dari pasar AS yang melonjak 14,2 persen. Capaian positif ini dirilis Toyota Motor Corporation, Senin (27/10/2025), meski penjualan di pasar penting Asia seperti China dan Indonesia justru mencatat penurunan.
Toyota Group (Toyota, Lexus, Daihatsu, Hino) menjual 949.153 kendaraan secara global pada September, sehingga total penjualan sembilan bulan pertama 2025 mencapai 8,358 juta unit. Angka kumulatif penjualan Toyota global ini naik 5,8 persen dibanding tahun lalu, didorong oleh model hibrida serta SUV baru seperti Lexus TX dan Grand Highlander di Amerika.
Di Asia, penjualan Toyota justru terkontraksi 0,2 persen, dengan pasar China turun 1 persen akibat berakhirnya subsidi dan sikap wait and see konsumen. Kondisi lebih buruk dialami pasar Indonesia, dimana penjualan Toyota anjlok 14 persen (YTD) akibat ketatnya proses kredit dan penerapan pajak baru.
Penurunan di pasar Indonesia ini, menurut pengamat, menjadi sinyal serius bahwa daya beli konsumen segmen menengah masih tertekan oleh kondisi makroekonomi domestik. Tren ini memaksa Toyota untuk tidak hanya bergantung pada model hibrida premium, tetapi juga harus memikirkan ulang strategi harga di negara berkembang agar tetap kompetitif, katanya.
Kinerja positif juga terlihat di Eropa yang naik 5,7 persen berkat model Yaris, serta India yang tumbuh 12,3 persen didorong Innova Hycross. Pasar domestik Jepang justru turun 5,2 persen di September karena masalah produksi pasca-penarikan Prius, meski secara kumulatif masih mencatat pertumbuhan 5,7 persen.
Ketergantungan penjualan Toyota global pada pasar AS yang kuat di tengah perlambatan pasar China dan Indonesia menunjukkan tantangan baru di era pasca-pandemi. Keberhasilan Toyota di masa depan kini bergantung pada kemampuan adaptasi strategi di setiap regional yang memiliki tantangan unik, dari regulasi pajak hingga perang harga kendaraan listrik.






