Nissan mengumumkan kemajuan signifikan dalam teknologi baterai all-solid-state (ASSB) di Jepang, Kamis (30/10/2025). Produsen mobil ini menggandeng mitra AS, LiCAP Technologies, untuk menyempurnakan proses “dry electrode” yang menjadi kunci produksi massal baterai solid-state berkinerja tinggi pada tahun fiskal 2028.
Prototipe baterai solid-state Nissan ini diklaim mampu menggandakan kepadatan energi, yang berarti jarak tempuh EV bisa dua kali lebih jauh tanpa menambah ukuran baterai. Selain itu, waktu pengisian daya dipangkas drastis menjadi hanya sepertiga dibandingkan baterai lithium-ion konvensional yang saat ini mendominasi pasar.
Inovasi ini berpusat pada penggunaan elektrolit padat yang lebih aman dan stabil pada suhu tinggi. Nissan secara spesifik memanfaatkan teknologi “pengikat berserat” (fibrous binder) dari LiCAP Technologies untuk katoda. Bahan pengikat unik ini memungkinkan ion bergerak lebih efisien dalam proses manufaktur “dry electrode”.
Proses “dry electrode” ini, menurut Nissan, sangat krusial karena menghilangkan langkah pengeringan yang boros energi dalam produksi baterai konvensional. Langkah strategis Nissan mengakuisisi teknologi ‘dry electrode’ dari LiCAP ini, menurut analis, adalah pertaruhan untuk memutus dominasi rantai pasok China. Dengan menguasai manufaktur padat yang lebih murah dan efisien, Nissan tidak hanya mengejar performa EV, tetapi juga membangun kemandirian industri otomotif Jepang di era baru, katanya.
Nissan menargetkan biaya produksi baterai solid-state baru ini bisa ditekan hingga $75 per kWh, atau 30 persen lebih rendah dari rata-rata global pada 2024. Jika berhasil, aliansi Nissan-LiCAP ini dapat mengubah lanskap pasar mobil listrik global dengan menawarkan baterai jarak jauh yang aman dan murah.
Meskipun Nissan telah mengoperasikan lini produksi percontohan sejak Januari 2025, target komersialisasi 2028 mereka menghadapi persaingan ketat. Kompetitor seperti Toyota menargetkan 2027, sementara SAIC Motor milik China dan QuantumScape yang didukung Volkswagen bahkan menargetkan produksi massal pada 2026.






