Taktik lemparan ke dalam jarak jauh, yang lama dianggap usang, kini bangkit dan meledak di Liga Premier musim 2025-2026. Data sembilan putaran pertama menunjukkan peningkatan 162 persen penggunaan taktik ini, dari rata-rata 1,52 per laga musim lalu menjadi 3,99 per laga musim ini.
Total 359 lemparan ke dalam jarak jauh (minimal 20 meter ke kotak penalti) telah terjadi hanya dalam sembilan pekan, melampaui total 340 lemparan sepanjang musim 2020-2021. Brentford menjadi tim yang paling mengeksploitasi taktik ini dengan 47 lemparan, diikuti Crystal Palace (38) dan Sunderland (33).
Kebangkitan taktik lemparan jarak jauh ini, menurut analis, dipicu oleh efektivitasnya dalam menciptakan kekacauan di kotak penalti dengan biaya risiko minimal. Tim seperti Crystal Palace mencatat 18 tembakan dari situasi ini, membuktikan bahwa bola mati non-tradisional ini telah menjadi senjata baru yang sangat efisien, katanya.
Crystal Palace terbukti paling efektif memanfaatkan tren ini, menghasilkan 18 tembakan dengan expected goals (xG) 2,03. Brentford, yang dipimpin pelempar Michael Kayode, juga sukses menciptakan 17 tembakan (xG 1,53) dari taktik lemparan jarak jauh tersebut, salah satunya berbuah gol saat melawan Liverpool.
Sebaliknya, Liverpool menjadi tim terburuk dalam mengantisipasi taktik lemparan jarak jauh ini, kebobolan tiga gol. Pelatih Arne Slot mengakui timnya belum memiliki solusi atas masalah ini. Sementara itu, tim besar seperti Chelsea, Man City, dan West Ham tercatat paling jarang menggunakan taktik ini.
Tren taktis ini menunjukkan bahwa efisiensi bola mati kembali menjadi fokus utama di Liga Premier yang sangat kompetitif. Keberhasilan Brentford dan Crystal Palace mengubah lemparan ke dalam, yang dulu dianggap remeh, menjadi peluang gol yang setara dengan tendangan sudut, memaksa tim-tim lain untuk beradaptasi atau menjadi korban berikutnya.






