Asosiasi Otomotif Jerman Usul ‘Paksa’ Pemilik PHEV Rutin Mengisi Daya

icon berita mobile

- Penulis Berita

Kamis, 6 November 2025 - 12:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mobil PHEV di Jerman (Ford)

Mobil PHEV di Jerman (Ford)

Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA) mengusulkan solusi radikal untuk memaksa pemilik Plug-in Hybrid (PHEV) agar rutin mengisi daya baterai mobil mereka. Usulan ini bertujuan memastikan mobil PHEV benar-benar digunakan dalam mode listrik, bukan hanya mengandalkan mesin bensin.

Presiden VDA Holdegard Müller, dalam wawancaranya dengan media lokal, Rabu (5/11/2025), mengusulkan agar kapasitas output tenaga mobil PHEV dibatasi secara otomatis. Pembatasan ini akan aktif jika sistem mendeteksi mobil telah menempuh jarak tertentu tanpa pernah dicolokkan ke pengisi daya.

“Di masa depan, PHEV dapat dirancang agar pengisian reguler menjadi wajib. Pengemudi PHEV diminta untuk mengisi daya mobil setelah jarak tertentu. Jika tidak dikenakan biaya, kapasitas output mobil akan terbatas. Pada titik ini, pengemudi perlu menggunakan soket pengisian mobil untuk memaksimalkan kapasitas output,” kata Holdegard Müller.

Baca Juga :  BYD Dolphin Catat Rekor Penjualan Global Melampaui Satu Juta Unit

Usulan ‘paksa’ isi daya PHEV ini muncul setelah berbagai studi mengungkap fakta bahwa banyak pemilik mobil hibrida plug-in di Eropa tidak pernah mengisi daya baterai mereka. Akibatnya, emisi CO2 riil di jalan raya jauh lebih tinggi dari klaim pabrikan, karena mobil PHEV tersebut praktis hanya beroperasi menggunakan mesin bensin sepanjang waktu.

Usulan VDA ini, menurut analis industri, adalah langkah putus asa untuk menyelamatkan reputasi teknologi PHEV di mata regulator Uni Eropa yang semakin ketat. Jika pemilik PHEV tidak ‘dipaksa’ mengisi daya, teknologi ini berisiko kehilangan insentif pajak karena dianggap gagal berkontribusi pada target pengurangan emisi yang sesungguhnya, katanya.

Meskipun VDA tidak merinci mekanisme teknisnya, efektivitas usulan ini akan bergantung pada interval jarak yang ditetapkan. Jika pembatasan daya aktif setelah 1.600 km, aturan ini mungkin efektif. Namun, jika batasan diatur terlalu pendek, misalnya 160 km, kebijakan ini dikhawatirkan akan memicu frustrasi pengguna karena lamanya waktu pengisian daya baterai PHEV.

Baca Juga :  Debut Mobil Baru GJAW 2025 Listrik, Hybrid, Hingga City Car

Wacana pembatasan tenaga PHEV di Jerman ini menjadi sinyal keras bagi industri otomotif global bahwa era “kepatuhan palsu” akan segera berakhir. Masa depan mobil hibrida kini tidak hanya bergantung pada teknologi baterai, tetapi juga pada kemampuan produsen untuk ‘memaksa’ penggunanya agar benar-benar berkendara ramah lingkungan.

Berita Terkait

Mobil Listrik di China 2040 Diprediksi Capai 90 Persen Pangsa Pasar
Bocoran Mobil Baru Chery yang Meluncur Sebentar Lagi di Indonesia
Mobil Listrik China Jakarta-Yogya Sekali Ngecas Segera Dijual di RI
Strategi Mobil Listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China: Bertahan dari Gempuran Lokal
Mengenal Perakitan Mobil CKD dan CBU, Apa Bedanya?
Interior BYD Racco EV Resmi Terungkap, Bawa Standar Baru Kei Car
Nissan Gravite Meluncur di India sebagai Mobil Keluarga 7-Seater Terbaru
Varian Baru BMW X3 30 xDrive M Sport Pro Meluncur 16 Februari
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 11:10 WIB

Mobil Listrik di China 2040 Diprediksi Capai 90 Persen Pangsa Pasar

Jumat, 10 April 2026 - 20:17 WIB

Bocoran Mobil Baru Chery yang Meluncur Sebentar Lagi di Indonesia

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:07 WIB

Mobil Listrik China Jakarta-Yogya Sekali Ngecas Segera Dijual di RI

Senin, 23 Maret 2026 - 21:24 WIB

Strategi Mobil Listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China: Bertahan dari Gempuran Lokal

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:43 WIB

Mengenal Perakitan Mobil CKD dan CBU, Apa Bedanya?

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB