Kebijakan Baru di Sepak Bola Inggris, Tidak Boleh Mengadakan Penghormatan untuk Peristiwa Global

icon berita mobile

- Penulis Berita

Jumat, 7 November 2025 - 01:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebijakan Baru di Sepak Bola Inggris, Tidak Boleh Mengadakan Penghormatan untuk Peristiwa Global

Kebijakan Baru di Sepak Bola Inggris, Tidak Boleh Mengadakan Penghormatan untuk Peristiwa Global

Sebuah era baru dalam protokol pertandingan sepak bola di Inggris resmi dimulai. Otoritas sepak bola negara tersebut kini telah sepakat untuk menghentikan praktik melakukan penghormatan atau hening cipta dalam pertandingan guna menandai peristiwa atau tragedi global yang tidak memiliki kaitan langsung dengan olahraga tersebut.

Keputusan besar ini diambil secara kolektif oleh tiga badan utama yang mengatur sepak bola di Inggris: The Football Association (FA), Premier League, dan English Football League (EFL).

Perubahan kebijakan ini menandai pergeseran signifikan dalam cara klub dan liga di Inggris merespons berbagai kejadian dunia. Selama bertahun-tahun, hening cipta sering dilakukan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan universal, terlepas dari relevansi langsungnya dengan sepak bola.

Berdasarkan kesepakatan yang baru ini, penghormatan di lapangan, seperti mengheningkan cipta atau mengenakan ban lengan hitam, hanya akan dilakukan jika suatu peristiwa memiliki hubungan langsung dan signifikan dengan komunitas sepak bola.

Ini berarti duka atau perayaan yang terjadi di luar komunitas sepak bola profesional maupun amatir Inggris kemungkinan besar tidak akan lagi dihormati secara seremonial di stadion.

Kebijakan yang diperbarui ini bertujuan untuk menciptakan konsistensi dan menghindari situasi di mana para pejabat kesulitan menentukan peristiwa mana yang ‘cukup penting’ untuk dihormati.

Baca Juga :  Sergio Castel Bidik Prestasi Lebih Tinggi Bersama Persib Bandung

Selama ini, pengambilan keputusan mengenai penghormatan kerap menimbulkan dilema etika dan kritik. Ada pihak yang menuduh bahwa pilihan untuk mengheningkan cipta terhadap peristiwa tertentu, sementara mengabaikan yang lain, berbau bias politik atau pandangan tertentu.

Otoritas liga berpendapat bahwa adanya protokol yang lebih ketat akan menjamin bahwa semua respons terhadap tragedi atau perayaan dilakukan secara merata dan dengan standar yang jelas.

Menurut kebijakan baru ini, penghormatan akan tetap dipertimbangkan dan dilakukan untuk peristiwa-peristiwa yang memenuhi kriteria keterkaitan langsung.

Contoh peristiwa yang masih akan memenuhi syarat termasuk meninggalnya tokoh penting dalam sepak bola, tragedi yang menimpa tim, pemain, atau suporter, serta momen peringatan terkait dengan komunitas sepak bola.

Dampak dari keputusan ini sangat terasa. Jika terjadi bencana alam, serangan teroris, atau tragedi kemanusiaan di belahan dunia lain yang tidak melibatkan pemain, ofisial, atau staf klub/liga, hening cipta hampir pasti tidak akan lagi dilakukan.

Kebijakan ini juga secara implisit mencerminkan keinginan federasi untuk mendepolitisasi lapangan hijau.

Mereka ingin memastikan bahwa fokus utama dalam sebuah pertandingan tetap pada aspek olahraga itu sendiri, bukan pada isu-isu geopolitik yang kompleks.

Baca Juga :  Kebangkitan Liverpool Libas Frankfurt 5-1, Akhiri Empat Kekalahan Beruntun

Premier League, sebagai liga paling disorot di dunia, adalah pihak yang paling sering berada di bawah pengawasan publik terkait praktik penghormatan ini.

Keputusan mereka untuk menyelaraskan diri dengan FA dan EFL menunjukkan adanya kesatuan pandangan di seluruh piramida sepak bola Inggris, dari level tertinggi hingga level liga di bawahnya.

Ketiga organisasi sepak bola tersebut telah berdiskusi panjang mengenai perlunya sebuah kebijakan tunggal.

Tujuan utama dari pertemuan mereka adalah menyusun garis panduan yang dapat diikuti dengan mudah dan konsisten oleh ratusan klub di seluruh sistem liga. Ini adalah upaya untuk menghindari judgement call yang bersifat subjektif.

Tentu saja, kebijakan baru ini berpotensi memicu kritik dari kelompok-kelompok advokasi sosial dan hak asasi manusia.

Mereka mungkin berpendapat bahwa sepak bola memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar sebagai platform global untuk menunjukkan solidaritas kemanusiaan.

Namun, di sisi lain, banyak penggemar sepak bola mungkin menyambut baik keputusan ini. Mereka lelah melihat pertandingan terganggu oleh serangkaian upacara yang terkadang terasa dipaksakan atau kurang relevan.

Penting untuk dicatat, keputusan ini tidak melarang klub untuk menunjukkan solidaritas di luar lapangan.

Baca Juga :  Falcao dan Ricardinho, Rivalitas dan Pesona Dua Raja Futsal Dunia

Klub-klub tetap didorong untuk menggunakan platform media sosial dan program komunitas mereka untuk menyampaikan dukungan, sumbangan, atau pesan solidaritas terhadap peristiwa global. Yang dihilangkan hanyalah ritual seremonial di dalam stadion yang dilakukan tepat sebelum kick-off.

Sebagai contoh, jika terjadi kematian sosok yang sangat dihormati secara nasional, seperti anggota keluarga kerajaan atau tokoh politik non-sepak bola, maka penghormatan mungkin akan tetap dilakukan karena relevansinya terhadap komunitas nasional yang lebih luas. Tetapi, peristiwa tersebut haruslah merupakan tragedi domestik, bukan global, untuk dipertimbangkan.

Inti dari kebijakan baru ini sangat jelas: batas antara ‘global’ dan ‘komunitas sepak bola’ kini ditarik lebih tegas.

Para pemain, pelatih, dan ofisial kini dapat fokus sepenuhnya pada pertandingan, sementara isu-isu global ditangani melalui saluran yang lebih sesuai.

Dengan adanya protokol baru ini, Liga Inggris berusaha melindungi dirinya dari tuduhan bias sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih fokus pada olahraga inti. Masa depan penghormatan di sepak bola Inggris kini lebih jelas, tetapi ruang lingkupnya menjadi jauh lebih sempit. Keputusan ini secara efektif mengakhiri era penghormatan global yang meluas di sepak bola Inggris.

Berita Terkait

Persib Siap Jaga Rekor Sempurna di GBLA Saat Jamu Arema, Hodak: “Kami di Situasi yang Bagus”
Persib Bandung Imbangi Dewa United 2-2 di Tengah Kontroversi Wasit
Shin Tae-yong: VO2 Max Pemain Timnas Indonesia Setara Anak SD pada 2020
PSSI dan FFF Perancis Bersinergi Dorong Pengembangan Sepak Bola Putri Indonesia
Gairah De Bruyne ke Sepakbola Mulai Pudar, Akhir Sebuah Era?
Beckham Putra Menggila di GBK: Brace ke Gawang St. Kitts & Nevis, Timnas Menang 4-0
Skuad 23 Pemain Timnas Indonesia Versi John Herdman untuk Hadapi St. Kitts and Nevis di FIFA Series 2026
Usai Libur Idulfitri, Andrew Jung Tancap Gas Latihan Lagi Jelang Lawan Semen Padang

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 09:36 WIB

Persib Siap Jaga Rekor Sempurna di GBLA Saat Jamu Arema, Hodak: “Kami di Situasi yang Bagus”

Selasa, 21 April 2026 - 09:10 WIB

Persib Bandung Imbangi Dewa United 2-2 di Tengah Kontroversi Wasit

Selasa, 14 April 2026 - 20:55 WIB

Shin Tae-yong: VO2 Max Pemain Timnas Indonesia Setara Anak SD pada 2020

Minggu, 12 April 2026 - 10:53 WIB

PSSI dan FFF Perancis Bersinergi Dorong Pengembangan Sepak Bola Putri Indonesia

Jumat, 10 April 2026 - 20:05 WIB

Gairah De Bruyne ke Sepakbola Mulai Pudar, Akhir Sebuah Era?

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB