BHP Group Tanggung Jawab Bencana Bendungan Brasil, 19 Orang Tewas

icon berita mobile

- Penulis Berita

Sabtu, 15 November 2025 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BHP Group Tanggung Jawab Bencana Bendungan Brasil, 19 Orang Tewas

BHP Group Tanggung Jawab Bencana Bendungan Brasil, 19 Orang Tewas

Pengadilan London telah menetapkan BHP Group, raksasa pertambangan global, bertanggung jawab atas salah satu bencana lingkungan terburuk yang pernah melanda Brasil. Putusan ini terkait keruntuhan tragis bendungan penampung limbah tambang, atau tailings dam, di Mariana pada tahun 2015.

Insiden mematikan tersebut tidak hanya merenggut 19 nyawa, tetapi juga melepaskan jutaan ton lumpur beracun yang memusnahkan ekosistem dan mencemari ratusan kilometer aliran sungai.

Keputusan pengadilan di Inggris ini menandai tonggak sejarah penting. Ini mengukuhkan bahwa perusahaan multinasional tidak bisa begitu saja lepas tangan dari dampak buruk yang ditimbulkan oleh operasi mereka di luar negeri. Meskipun bencana terjadi di Amerika Selatan, gugatan diajukan di London, tempat perusahaan tersebut terdaftar.

Bendungan yang runtuh adalah milik Samarco Mineracao SA, sebuah perusahaan patungan atau joint venture yang dimiliki bersama oleh BHP dan perusahaan pertambangan Brasil, Vale. Bencana itu terjadi di Bento Rodrigues, sebuah desa di negara bagian Minas Gerais, dan mengubah lanskap menjadi kubangan lumpur.

Lumpur limbah atau tailing tambang itu mengalir deras setelah bendungan Fundão jebol. Alirannya menyerbu desa-desa di bawahnya, menelan rumah, sekolah, dan warga yang tak sempat menyelamatkan diri. Peristiwa ini dengan cepat menjadi sorotan dunia karena skalanya yang masif dan kerusakan jangka panjangnya.

Selain kerugian nyawa, konsekuensi lingkungan dari kegagalan struktural ini sangatlah parah. Sungai Rio Doce, yang merupakan salah satu sungai terpenting di Brasil, tercemar parah. Lumpur limbah yang mengandung logam berat beracun menyebar, merusak keanekaragaman hayati secara permanen.

Baca Juga :  Pakar Hukum Konservatif Bedah Sisi Konstitusional Tahun Pertama Pemerintahan Kedua Donald Trump

Laporan dari PBB pada saat itu mengindikasikan bahwa limbah yang dilepaskan mengandung logam berat beracun dalam kadar tinggi. Klaim awal bahwa limbah tersebut sebagian besar terdiri dari pasir non-toksik dibantah oleh temuan investigasi. Hal ini semakin memperumit upaya pemulihan dan menimbulkan kekhawatiran serius tentang kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Gugatan hukum terhadap BHP Group di London mencakup puluhan ribu korban yang terdampak langsung oleh bencana tersebut. Para korban menuntut keadilan dan ganti rugi atas hilangnya orang yang mereka cintai, properti, dan mata pencaharian.

Proses hukum yang panjang dan berliku ini akhirnya mencapai titik terang. Pengadilan Inggris memutuskan bahwa BHP memiliki kewajiban hukum terhadap warga Brasil yang menjadi korban. Keputusan ini berpotensi membuka jalan bagi kompensasi signifikan bagi para penyintas dan keluarga korban.

Bencana bendungan Mariana pada November 2015 ini sering disebut sebagai bencana lingkungan terburuk dalam sejarah Brasil. Volume limbah yang tumpah diperkirakan mencapai sekitar 60 juta meter kubik. Jumlah yang fantastis dan menunjukkan betapa besarnya skala kegagalan dalam pengelolaan limbah pertambangan.

Dampak buruk ini tidak hanya dirasakan di darat. Lumpur beracun mengalir ratusan kilometer mengikuti arus Rio Doce hingga akhirnya mencapai Samudra Atlantik. Kontaminasi air yang meluas ini menyebabkan krisis air minum bagi sekitar 250.000 orang dan mengganggu ekosistem laut.

Baca Juga :  Ledakan di Moskow Tewas tiga Orang Termasuk Dua Polisi di Lokasi Bom Mobil

Selama bertahun-tahun, BHP dan Vale telah menghadapi kritik tajam. Mereka dinilai lalai dalam memastikan keamanan dan pemeliharaan bendungan yang berisiko tinggi tersebut. Bendungan Fundão, seperti banyak bendungan tailing lainnya, dibangun secara bertahap menggunakan metode yang dianggap kurang aman dibandingkan standar modern.

Pengadilan di London kini memastikan bahwa BHP harus menerima bagiannya dalam tanggung jawab tersebut. Keputusan ini memiliki implikasi luas untuk industri pertambangan global. Ini mengirimkan pesan tegas bahwa akuntabilitas perusahaan tidak berhenti di perbatasan negara.

Bagi komunitas yang terdampak, putusan ini menawarkan secercah harapan. Setelah bertahun-tahun hidup dengan trauma dan dampak lingkungan yang berkepanjangan, pengakuan resmi atas tanggung jawab perusahaan adalah langkah awal menuju pemulihan yang sesungguhnya.

Keputusan ini juga menyoroti pentingnya regulasi yang lebih ketat terhadap operasi pertambangan. Aktivis lingkungan telah lama menyerukan adanya pengawasan yang lebih kuat untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.

Bencana Mariana menjadi pelajaran pahit tentang harga yang harus dibayar ketika profitabilitas diutamakan di atas keselamatan. Kegagalan sistemik ini menyebabkan kerugian yang tak ternilai harganya: hilangnya nyawa manusia dan kerusakan permanen pada alam.

Meskipun gugatan di London berfokus pada tanggung jawab BHP, perusahaan mitranya, Vale, juga menghadapi berbagai tuntutan dan sanksi di Brasil. Kedua perusahaan ini berulang kali dituduh mengabaikan peringatan keamanan.

Skala tuntutan ganti rugi yang dihadapi oleh BHP Group sangat besar. Proses penentuan jumlah akhir kompensasi yang harus dibayarkan kemungkinan akan memakan waktu. Namun, yang terpenting, keputusan pengadilan ini mengembalikan fokus pada korban dan pemulihan lingkungan.

Baca Juga :  Militan M23 Kuasai Kota Uvira Ratusan Ribu Warga Kongo Terpaksa Mengungsi

Rio Doce, yang dulunya adalah sumber kehidupan, kini menjadi simbol dari bencana ekologis. Upaya untuk membersihkan sungai dan memulihkan habitat yang rusak akan memakan waktu puluhan tahun, bahkan mungkin tidak akan pernah kembali sepenuhnya seperti semula.

Langkah hukum di Inggris ini memberikan preseden baru yang kuat. Perusahaan global yang beroperasi melalui anak perusahaan di negara berkembang harus waspada. Mereka tidak dapat lagi menggunakan struktur korporat yang kompleks sebagai tameng untuk menghindari tanggung jawab.

Keruntuhan bendungan tahun 2015 di Brasil ini adalah seruan untuk bertindak. Pemerintah dan regulator di seluruh dunia harus meninjau kembali protokol keselamatan bendungan limbah tambang.

Nyawa dan lingkungan terlalu berharga untuk dipertaruhkan demi keuntungan jangka pendek.

Putusan Pengadilan London adalah kemenangan moral bagi para korban. Itu menegaskan bahwa keadilan, meskipun datang perlahan, tetap bisa diraih bahkan ketika menghadapi perusahaan dengan kekuatan finansial yang sangat besar.

BHP kini berada di bawah tekanan besar untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap perbaikan, bukan hanya dalam bentuk ganti rugi finansial, tetapi juga dalam upaya jangka panjang untuk merehabilitasi komunitas dan lingkungan yang telah hancur. Dunia sedang mengawasi langkah BHP selanjutnya.

 

Berita Terkait

Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India
Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang
Kanada Berupaya Bergabung dalam Proyek Jet Tempur Global Combat Air Programme
Akhir Pelarian Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori
Veda Ega Pratama, Media Italia Sebut Ia Berbeda dari Pembalap Asia Lainnya
IPO GIFT City Pertama di India Resmi Dibuka 16 Maret, Era Baru Finansial
Hizbullah Serang Israel, Eskalasi Ketegangan di Perbatasan Lebanon
AI Mengubah Lapangan Kerja di Rumania, Transformasi dan Masa Depan
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 15:01 WIB

Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India

Minggu, 12 April 2026 - 11:05 WIB

Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang

Jumat, 10 April 2026 - 20:12 WIB

Kanada Berupaya Bergabung dalam Proyek Jet Tempur Global Combat Air Programme

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:03 WIB

Akhir Pelarian Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori

Senin, 23 Maret 2026 - 21:15 WIB

Veda Ega Pratama, Media Italia Sebut Ia Berbeda dari Pembalap Asia Lainnya

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB