Industri pariwisata Jepang kini menghadapi ancaman krisis parah setelah hampir setengah juta turis China (491.000) membatalkan tiket pesawat mereka. Eksodus massal turis China ini dipicu oleh memanasnya ketegangan diplomatik, yang mendorong Beijing menyarankan warganya menghindari perjalanan ke Jepang.
Data independen industri penerbangan China menunjukkan 491.000 pembatalan tiket ke Jepang tercatat sejak 16 November, atau 32% dari total pemesanan. Dampaknya, 82% penerbangan terdampak pada 16 November, dengan tingkat pembatalan pada hari Minggu 27 kali lebih tinggi dari pemesanan baru.
Maskapai China, yang mendominasi rute ke Jepang, kini berisiko kehilangan pendapatan miliaran yuan dan telah menawarkan pengembalian dana gratis hingga 31 Desember. Sejumlah agen perjalanan besar milik negara di Beijing juga mengonfirmasi penghentian total penjualan paket tur ke Jepang akibat “situasi saat ini”.
Krisis pembatalan turis China ini, menurut para analis, menjadi pukulan telak bagi industri pariwisata Jepang yang baru saja pulih pasca-pandemi dan sangat bergantung pada pasar Tiongkok. Pembatalan 491.000 tiket ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen geopolitik dapat menghancurkan rantai ekonomi pariwisata yang telah dibangun bertahun-tahun, katanya.
Turis China adalah pasar internasional terbesar bagi Jepang, dengan 7,49 juta kunjungan dalam sembilan bulan pertama tahun 2025 dan total belanja 590 miliar yen ($3,8 miliar) di Q3 saja. Sektor perhotelan Jepang, seperti Imperial Hotel Group dan Colowide Group, kini mulai menyuarakan keprihatinan serius atas potensi penurunan laba akibat gelombang pembatalan turis China tersebut.
Eksodus 491.000 turis China ini menjadi bukti nyata bahwa industri pariwisata modern sangat rentan terhadap gejolak politik, di mana imbauan diplomatik dapat seketika membekukan arus wisatawan. Insiden ini menegaskan bahwa ketergantungan ekonomi Jepang pada satu pasar pariwisata kini menjadi risiko strategis yang harus segera dievaluasi ulang oleh Tokyo.






