Myanmar Gandeng Rusia Bangun PLTN Modular Pertama Dorong Ekonomi

icon berita mobile

- Penulis Berita

Rabu, 1 Oktober 2025 - 21:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Myanmar kian memantapkan langkahnya dalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang pertama di negara itu. Proyek ambisius ini didukung penuh oleh Rusia dan menjadi bagian vital dari strategi modernisasi ekonomi di tengah tantangan konflik sipil dan bencana alam yang kerap melanda.

Fokus utama pembangunan PLTN ini adalah menyediakan pasokan energi yang stabil dan andal. Energi ini secara khusus diarahkan untuk menopang sektor-sektor strategis yang menjadi prioritas pembangunan negara tersebut.

Sektor-sektor yang dimaksud mencakup energi itu sendiri, sektor kesehatan, pertanian, peternakan, industri, hingga konservasi lingkungan. Semua sektor ini diharapkan dapat tumbuh pesat berkat dukungan energi nuklir.

Penegasan rencana penting ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Administrasi Negara Myanmar, Min Aung Hlaing. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah lokakarya yang diadakan di Moskow, Rusia.

Acara tersebut, yang bertajuk “Pemuda dan Masa Depan Myanmar – Sains dan Teknologi,” berlangsung pada Kamis, 25 September 2025. Forum tersebut menjadi platform bagi Myanmar untuk menunjukkan komitmennya pada teknologi dan sains.

Baca Juga :  Airbus Tarik Ribuan Pesawat A320 Global: Kekacauan Ratusan Penerbangan Dibatalkan

Min Aung Hlaing menyatakan bahwa Myanmar harus bergerak maju. Mereka perlu mengembangkan PLTN dan memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai, sejalan dengan standar internasional.

Dukungan dari Rusia memang terwujud dalam bentuk kerja sama konkrit. Pada Maret lalu, Myanmar telah menandatangani perjanjian penting dengan Rosatom, perusahaan energi nuklir terkemuka milik Rusia.

Perjanjian tersebut secara spesifik mengatur tentang pembangunan PLTN modular kecil (SMR). Teknologi SMR ini dipilih karena fleksibilitas dan ukuran yang lebih ringkas.

Kapasitas awal SMR yang direncanakan adalah 110 megawatt. Namun, desainnya memungkinkan adanya perluasan kapasitas di masa mendatang.

Kapasitas daya listrik tersebut berpotensi ditingkatkan hingga mencapai 330 megawatt. Skema modular ini memberikan opsi untuk ekspansi sesuai dengan kebutuhan energi Myanmar.

Dikutip dari media pemerintah The Global New Light of Myanmar, Min Aung Hlaing juga menyoroti kebutuhan akan sumber daya manusia. Ia menekankan perlunya SDM terampil untuk menyukseskan proyek ini.

Baca Juga :  Kerentanan Infrastruktur Minyak Ubah Dominasi Energi Global Pasca Konflik

“Diperlukan sumber daya manusia yang terampil untuk membangun PLTN dan memanfaatkan teknologi radiologi secara efisien,” ujarnya. Investasi pada teknologi harus diimbangi dengan investasi pada kemampuan tenaga kerja.

Pengembangan tenaga kerja terampil menjadi salah satu manfaat ekonomi yang diantisipasi dari proyek kolaborasi dengan Rusia ini. Pelatihan dan alih teknologi akan menciptakan tenaga ahli baru.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahkan menyebut proyek energi nuklir ini sebagai terobosan penting bagi perekonomian Myanmar secara keseluruhan. Ia melihat potensi yang sangat besar dari pembangunan PLTN ini.

Proyek ini diproyeksikan tidak hanya menyediakan listrik. Namun, juga berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja baru bagi warga Myanmar.

Penciptaan lapangan kerja dan pengembangan tenaga kerja terampil akan memberikan multiplier effect bagi ekonomi. Hal ini dapat membantu Myanmar memulihkan diri dari dampak buruk konflik sipil yang berkepanjangan.

Baca Juga :  Keamanan Meningkat, Kejahatan Jadi Isu Kunci Kampanye Presiden Chile

Kerja sama dengan Rosatom ini menandai babak baru. Myanmar, yang kini semakin aktif menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Rusia, menunjukkan ambisinya untuk menjadi kekuatan regional yang stabil secara energi.

Melalui pemanfaatan teknologi nuklir secara damai, Myanmar berharap dapat mengatasi defisit energi. Ketersediaan listrik yang cukup adalah kunci untuk memacu pertumbuhan industri dan modernisasi infrastruktur.

Keputusan untuk membangun Small Modular Reactor (SMR) mencerminkan tren global. Banyak negara memilih SMR karena relatif lebih aman, lebih cepat dibangun, dan dapat ditempatkan di lokasi yang lebih terpencil.

Inisiatif energi nuklir ini menegaskan komitmen Myanmar untuk diversifikasi sumber energi. Hal ini penting demi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mencapai ketahanan energi jangka panjang.

Keterangan dari Min Aung Hlaing di Moskow ini memastikan bahwa rencana pembangunan PLTN ini bukan sekadar wacana. Ini adalah langkah nyata menuju masa depan yang lebih berteknologi dan berenergi kuat.

 

Berita Terkait

Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India
Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang
Kanada Berupaya Bergabung dalam Proyek Jet Tempur Global Combat Air Programme
Akhir Pelarian Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori
Veda Ega Pratama, Media Italia Sebut Ia Berbeda dari Pembalap Asia Lainnya
IPO GIFT City Pertama di India Resmi Dibuka 16 Maret, Era Baru Finansial
Hizbullah Serang Israel, Eskalasi Ketegangan di Perbatasan Lebanon
AI Mengubah Lapangan Kerja di Rumania, Transformasi dan Masa Depan

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 15:01 WIB

Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India

Minggu, 12 April 2026 - 11:05 WIB

Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang

Jumat, 10 April 2026 - 20:12 WIB

Kanada Berupaya Bergabung dalam Proyek Jet Tempur Global Combat Air Programme

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:03 WIB

Akhir Pelarian Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori

Senin, 23 Maret 2026 - 21:15 WIB

Veda Ega Pratama, Media Italia Sebut Ia Berbeda dari Pembalap Asia Lainnya

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB