Paris Saint-Germain membawa pulang kemenangan 2-1 atas Barcelona di Montjuïc pada dini hari 2 Oktober, dan sorotan tak hanya tertuju pada gol penentu Gonçalo Ramos. Nama Nuno Mendes mencuat sebagai aktor utama, mempertegas ucapan penuh percaya diri dari rekannya, Achraf Hakimi, yang menyebut Lamine Yamal harus menghadapi “bek kiri terbaik di dunia.”
Barcelona menaruh banyak harapan pada Yamal, bintang muda berusia 18 tahun yang baru pulih dari cedera. Awalnya ia sempat memamerkan kecepatannya, memancing decak kagum dari publik tuan rumah. Namun momen itu segera menjadi jarang. Hampir sepanjang pertandingan, jalur Yamal benar-benar terkunci oleh kedisiplinan dan ketangguhan Mendes.
Tak hanya kukuh di lini belakang, Mendes juga aktif membantu serangan. Pada menit ke-38, ia menusuk sisi kiri, melewati kawalan Jules Kounde, lalu mengirim umpan matang yang dituntaskan Senny Mayulu untuk menyamakan kedudukan. Aksi itu merangkum kualitas utama Mendes: cepat, keras dalam duel, dan tahu kapan harus maju mendukung lini depan.
Yamal yang diharapkan jadi pemecah kebuntuan justru frustrasi. Ia menutup laga dengan kartu kuning karena pelanggaran terhadap Lucas Hernandez, seolah menegaskan sulitnya menembus benteng Mendes. Barcelona total melepaskan 12 tembakan, tetapi hanya menghasilkan satu gol. “Mematikan” Yamal terbukti menjadi kunci bagi PSG untuk tetap bertahan dan melancarkan pukulan penentu di akhir laga.
Statistik semakin memperkuat penampilan impresif sang bek kiri Portugal. Tingkat akurasi umpannya mendekati 90 persen, jauh lebih baik dibanding Yamal yang hanya 74 persen. Mendes juga menciptakan peluang lebih banyak, termasuk assist penting, sekaligus tampil disiplin tanpa melakukan kesalahan fatal yang bisa dimanfaatkan lawan.
Yang membuat penampilan Mendes lebih istimewa adalah kedewasaan yang ia tunjukkan di usia 23 tahun. Ia tak sekadar mengandalkan kecepatan, melainkan membaca permainan dengan tenang dan menunggu momen yang tepat untuk melakukan intervensi. Kesabaran itu membuat Yamal tak pernah benar-benar bisa berkembang.
Hakimi memang terlihat percaya diri saat menyebut rekannya sebagai bek kiri terbaik di dunia sebelum pertandingan. Setelah laga berakhir, sulit untuk membantah klaim itu. Mendes tampil hampir sempurna: menetralkan senjata paling berbahaya milik Barcelona sekaligus memberikan kontribusi langsung untuk kemenangan.
Bagi PSG, hasil ini juga mencatatkan sejarah. Mereka menjadi tim pertama yang mampu meraih tiga kemenangan tandang beruntun atas Barcelona di kompetisi Eropa. Namun, pencapaian kolektif itu jelas tak bisa dilepaskan dari dominasi individu seorang Nuno Mendes. Malam di Montjuïc itu mengukuhkan dirinya sebagai salah satu bek kiri paling komplet di dunia, dan Hakimi benar sejak awal.






