Stellantis Soroti Risiko Investasi Otomotif di Eropa Akibat Kebijakan Uni Eropa

icon berita mobile

- Penulis Berita

Senin, 22 Desember 2025 - 09:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CEO Stellantis Antonio Filosa

CEO Stellantis Antonio Filosa

Industri otomotif Eropa kembali berada di bawah sorotan setelah CEO Stellantis, Antonio Filosa, menyampaikan peringatan keras terkait arah kebijakan terbaru Uni Eropa. Menurutnya, paket kebijakan otomotif yang baru diumumkan berpotensi menghambat pertumbuhan industri dan mengancam keberlanjutan investasi produsen mobil di kawasan tersebut.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Filosa menilai kebijakan Komisi Eropa belum memberikan solusi konkret untuk mengembalikan industri otomotif Eropa ke jalur pertumbuhan. Ia menekankan bahwa tanpa prospek pertumbuhan yang jelas, perusahaan otomotif akan kesulitan membenarkan investasi jangka panjang di wilayah tersebut.

Filosa menyebut persaingan global yang semakin ketat, terutama dari produsen mobil China, sebagai tantangan besar yang belum dijawab secara memadai oleh kebijakan Uni Eropa. Selain itu, hambatan perdagangan serta ketidakpastian regulasi dinilai semakin melemahkan kepercayaan pelaku industri terhadap masa depan sektor otomotif Eropa.

Baca Juga :  Dua Lexus Ini Membuktikan Mobil Mewah Bisa Bertahan Hingga Jutaan Kilometer

Menurut Stellantis, kurangnya kepastian kebijakan dapat berdampak langsung pada kemampuan perusahaan membangun rantai pasok yang berkelanjutan dan tangguh. Padahal, rantai pasok tersebut merupakan fondasi penting bagi penciptaan lapangan kerja, stabilitas ekonomi, serta keamanan industri di Eropa.

Kekhawatiran ini muncul di tengah perdebatan internal Uni Eropa terkait keputusan untuk mencabut rencana larangan penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal mulai 2035. Kebijakan tersebut memicu perpecahan di kalangan produsen otomotif. Sebagian menilai langkah ini sebagai pelonggaran yang realistis, sementara pihak lain menganggapnya sebagai sinyal ketidakkonsistenan dalam transisi menuju kendaraan listrik.

Dalam pernyataan resminya, Stellantis menyebut paket kebijakan terbaru masih mengabaikan sejumlah isu mendasar. Salah satunya adalah ketiadaan peta jalan yang jelas untuk kendaraan niaga ringan, serta minimnya fleksibilitas terhadap target emisi mobil penumpang pada 2030. Kondisi ini dinilai berpotensi mengurangi daya tarik Eropa sebagai tujuan investasi industri otomotif global.

Baca Juga :  GLB Generasi Terbaru Siap Jadi SUV Keluarga Listrik Mercedes dengan Pengisian Super Cepat

Filosa menegaskan bahwa tanpa penyesuaian kebijakan yang lebih jelas dan pro-pertumbuhan, Eropa berisiko tertinggal dalam persaingan industri otomotif global yang kini bergerak sangat cepat menuju efisiensi, teknologi baru, dan skala produksi besar.

Berita Terkait

Mobil Listrik di China 2040 Diprediksi Capai 90 Persen Pangsa Pasar
Bocoran Mobil Baru Chery yang Meluncur Sebentar Lagi di Indonesia
Mobil Listrik China Jakarta-Yogya Sekali Ngecas Segera Dijual di RI
Strategi Mobil Listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China: Bertahan dari Gempuran Lokal
Mengenal Perakitan Mobil CKD dan CBU, Apa Bedanya?
Interior BYD Racco EV Resmi Terungkap, Bawa Standar Baru Kei Car
Nissan Gravite Meluncur di India sebagai Mobil Keluarga 7-Seater Terbaru
Varian Baru BMW X3 30 xDrive M Sport Pro Meluncur 16 Februari

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 11:10 WIB

Mobil Listrik di China 2040 Diprediksi Capai 90 Persen Pangsa Pasar

Jumat, 10 April 2026 - 20:17 WIB

Bocoran Mobil Baru Chery yang Meluncur Sebentar Lagi di Indonesia

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:07 WIB

Mobil Listrik China Jakarta-Yogya Sekali Ngecas Segera Dijual di RI

Senin, 23 Maret 2026 - 21:24 WIB

Strategi Mobil Listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China: Bertahan dari Gempuran Lokal

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:43 WIB

Mengenal Perakitan Mobil CKD dan CBU, Apa Bedanya?

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB