Penjualan global Toyota Motor Corporation mengalami penurunan pada November 2025, mengakhiri tren pertumbuhan yang telah berlangsung selama sebelas bulan berturut-turut. Pelemahan permintaan di China dan Amerika Selatan menjadi faktor utama di balik koreksi tersebut, meski kinerja Toyota di Amerika Serikat tetap solid dan penjualan kendaraan listrik melonjak tajam.
Toyota mencatat penjualan global sebesar 900.011 unit sepanjang November. Angka ini turun 2,2 persen secara tahunan (year on year) dan menjadi penurunan bulanan pertama setelah reli panjang sepanjang tahun.
Penjualan Toyota di luar Jepang tercatat 769.789 unit, turun 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pasar domestik Jepang relatif stagnan dengan penjualan 130.222 unit.
Di tengah penerapan tarif impor kendaraan Jepang oleh Amerika Serikat, penjualan Toyota di Negeri Paman Sam justru masih tumbuh. Sepanjang November, Toyota menjual 212.772 unit kendaraan di AS, meningkat 2,7 persen secara tahunan.
Jumlah kendaraan yang diekspor ke AS, termasuk merek mewah Lexus, melonjak 16,7 persen menjadi 56.992 unit, menandakan permintaan konsumen yang tetap kuat.
Sebaliknya, kinerja Toyota di China mengalami tekanan signifikan. Penjualan di negara tersebut turun 12,1 persen menjadi 154.645 unit. Toyota menyebut berakhirnya subsidi di sejumlah wilayah serta sikap konsumen yang menunda pembelian sambil menunggu kebijakan baru dan versi terbaru model andalan seperti RAV4 sebagai penyebab utama.
Penurunan lebih dalam terjadi di kawasan Amerika Selatan. Penjualan regional merosot 25,5 persen menjadi 32.463 unit, melanjutkan tren penurunan dari Oktober. Gangguan produksi di pabrik Toyota Brasil akibat kerusakan badai pada September turut berdampak, dengan penjualan di Brasil anjlok 37,2 persen dan di Argentina turun 39,4 persen.
Di Asia Tenggara, kinerja Toyota menunjukkan hasil yang bervariasi. Penjualan di Indonesia turun 6,4 persen menjadi 24.356 unit, dipengaruhi oleh pengetatan kredit, kondisi pasar yang lebih ketat, serta kebijakan pajak baru.
Sebaliknya, Thailand mencatat pertumbuhan 12,8 persen menjadi sekitar 19.305 unit, didorong oleh penjualan kuat model Yaris, meskipun pasar masih dibayangi kebijakan pengetatan pembiayaan.
Sementara itu, India tetap menjadi salah satu pasar paling positif bagi Toyota. Penjualan di negara tersebut tumbuh 15,9 persen, didukung tingginya permintaan untuk model seperti Urban Cruiser Hyryder dan Innova Hycross.
Di tengah penurunan total penjualan, segmen kendaraan listrik (EV) justru menjadi sorotan utama. Penjualan EV Toyota melonjak 89,2 persen menjadi 21.513 unit, menembus angka 20.000 unit per bulan untuk pertama kalinya.
Model Toyota bZ4X yang diperbarui dan diluncurkan kembali pada Oktober mencatat pertumbuhan signifikan. Selain itu, kontribusi kendaraan listrik baru yang diluncurkan di China sejak Maret turut memperkuat momentum elektrifikasi Toyota di pasar global.






