Kabar duka datang dari Dhaka saat pemerintah Bangladesh secara resmi mengumumkan berpulangnya Khaleda Zia.
Mantan Perdana Menteri yang menjadi figur sentral dalam perpolitikan negara tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada usia 80 tahun.
Kepergiannya menandai berakhirnya sebuah era bagi Partai Nasionalis Bangladesh atau BNP yang selama puluhan tahun dipimpinnya dengan tangan dingin.
Pihak berwenang menyampaikan konfirmasi mengenai meninggalnya tokoh perempuan berpengaruh ini setelah sempat menjalani perawatan medis. Meskipun detail mengenai penyebab kematiannya tidak dirinci secara mendalam dalam pengumuman awal, publik telah mengetahui bahwa kondisi kesehatannya terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Khaleda Zia bukan sekadar politisi biasa di mata rakyat Bangladesh. Beliau adalah perdana menteri perempuan pertama di negara tersebut dan orang kedua di dunia Muslim yang memimpin pemerintahan setelah Benazir Bhutto.
Perjalanan hidupnya penuh dengan dinamika, mulai dari puncak kekuasaan hingga hari-hari sulit di balik jeruji besi maupun tahanan rumah.
Kabar mengenai meninggalnya Zia segera menyebar ke seluruh penjuru negeri, memicu reaksi emosional dari para pendukung setianya.
Di markas besar BNP, kerumunan massa mulai berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang mereka panggil dengan sebutan “Ibu Demokrasi”.
Pemerintah Bangladesh mengumumkan hari berkabung nasional untuk menghormati jasa-jasanya selama menjabat sebagai kepala pemerintahan. Bendera setengah tiang akan dikibarkan di berbagai kantor pemerintahan dan kedutaan besar Bangladesh di seluruh dunia.
Selama masa hidupnya, Khaleda Zia dikenal karena persaingan politiknya yang sangat tajam dengan Sheikh Hasina. Rivalitas antara kedua perempuan kuat ini sering disebut sebagai “Pertempuran para Begum” yang mendominasi panggung politik Bangladesh selama lebih dari tiga dekade. Persaingan ini tidak jarang memicu ketegangan di akar rumput, namun tetap menjadi motor penggerak partisipasi politik di sana.
Lahir pada tahun 1945, Khaleda mulai terjun ke dunia politik setelah pembunuhan suaminya, Ziaur Rahman, yang merupakan Presiden Bangladesh.
Ia mengambil alih kepemimpinan BNP yang saat itu sedang terpuruk dan berhasil membawa partai tersebut memenangkan pemilu berkali-kali.
Kekuatan karakter Zia terlihat dari caranya mempertahankan basis massa meski menghadapi berbagai tekanan hukum. Para kritikus sering menyoroti kebijakan-kebijakannya, namun para pendukungnya melihatnya sebagai simbol ketegasan dan kedaulatan nasional.
Pemerintah saat ini telah menginstruksikan aparat keamanan untuk berjaga-jaga di titik-titik strategis guna mengantisipasi luapan massa yang ingin menghadiri prosesi pemakaman. Hal ini dilakukan untuk memastikan situasi tetap kondusif di tengah suasana duka yang mendalam.
Kematian Khaleda Zia pada usia 80 tahun ini diperkirakan akan mengubah peta politik internal di tubuh BNP. Tanpa kehadirannya sebagai tokoh pemersatu, partai tersebut kini menghadapi tantangan besar untuk menentukan arah kepemimpinan di masa depan.
Banyak pengamat politik mulai berspekulasi mengenai siapa yang akan meneruskan warisan politik keluarga Zia.
Jenazah mantan PM Zia direncanakan akan dimakamkan melalui upacara kenegaraan sesuai dengan protokol bagi mantan kepala pemerintahan.
Kerabat dekat dan tokoh-tokoh penting dari berbagai partai politik diharapkan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir di Dhaka.
Sepanjang kariernya, Zia pernah menjabat sebagai perdana menteri dalam beberapa periode yang berbeda. Masa jabatannya ditandai dengan berbagai upaya reformasi ekonomi, meskipun sering kali dibayangi oleh krisis politik dan aksi protes jalanan yang berkepanjangan.
Dunia internasional juga memberikan perhatian atas kabar duka ini. Sejumlah pemimpin negara tetangga mulai mengirimkan pesan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan serta kepada rakyat Bangladesh.
Zia dianggap sebagai salah satu tokoh yang turut membentuk sejarah kontemporer di Asia Selatan.
Di rumah sakit tempat beliau mengembuskan napas terakhir, suasana haru sangat terasa menyelimuti lorong-lorong bangunan tersebut. Para perawat dan dokter yang menangani perawatannya menyebutkan bahwa Zia adalah sosok yang tenang di hari-hari terakhirnya.
Meskipun ia telah tiada, perdebatan mengenai warisan politiknya dipastikan akan terus berlanjut di ruang-ruang publik.
Pengaruhnya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dalam politik praktis tetap diakui oleh kawan maupun lawan politiknya.
Bagi banyak orang di Dhaka, meninggalnya Zia adalah kehilangan figur orang tua dalam kancah nasional. Sejarah akan mencatat namanya sebagai salah satu arsitek politik modern yang mampu bertahan di tengah badai perubahan zaman yang ekstrem.
Keluarga besar mendiang meminta privasi di tengah masa berkabung ini, meskipun mereka menyadari besarnya perhatian publik. Informasi mengenai detail waktu dan lokasi pemakaman akan diumumkan secara bertahap kepada masyarakat melalui saluran resmi partai.
Bangladesh kini bersiap untuk mengucapkan selamat jalan kepada salah satu putri terbaiknya.
Jalan-jalan protokol di ibu kota mulai dipenuhi dengan spanduk ucapan duka cita dan foto-foto masa kejayaan sang mantan perdana menteri.
Pengumuman wafatnya Khaleda Zia pada usia 80 tahun ini menutup lembaran panjang sejarah perjuangan seorang perempuan di panggung kekuasaan yang keras. Warisannya akan tetap hidup dalam struktur politik dan memori kolektif bangsa Bangladesh untuk waktu yang sangat lama.






