Persaingan sengit di industri otomotif China kian menekan produsen global. BMW menjadi salah satu merek premium terbaru yang mengambil langkah agresif dengan memangkas harga puluhan model kendaraan demi mempertahankan daya saing di pasar terbesar dunia tersebut.
BMW China mengumumkan penyesuaian harga ritel yang mulai berlaku pada 1 Januari 2026. Kebijakan ini mencakup lebih dari 30 model, mulai dari sedan eksekutif hingga kendaraan listrik murni. Sebagian besar model mengalami penurunan harga dua digit, menandakan tekanan pasar yang semakin kuat.
Langkah ini diambil di tengah dominasi merek-merek lokal China yang mampu menawarkan mobil berteknologi tinggi dengan harga lebih terjangkau. Produsen dalam negeri dinilai berhasil menggerus pangsa pasar merek internasional, termasuk di segmen kendaraan listrik dan premium.
Pemangkasan harga paling mencolok terjadi pada BMW i7 M70L, sedan listrik mewah yang kini dijual jauh lebih murah dibandingkan harga sebelumnya. Penyesuaian ini menunjukkan bahwa bahkan model flagship BMW tidak lagi kebal dari strategi perang harga di China.
SUV listrik BMW iX1 eDrive25L juga mengalami penurunan harga signifikan. Model ini kini diposisikan untuk bersaing langsung dengan SUV listrik buatan pabrikan lokal yang selama ini dikenal agresif dalam menetapkan harga.
Selain kendaraan listrik, lini sedan konvensional BMW pun tak luput dari penyesuaian. Seri 7, yang selama ini menjadi simbol kemewahan BMW di China, kini ditawarkan dengan harga yang lebih rendah agar tetap relevan di pasar yang semakin sensitif terhadap nilai dan fitur.
BMW menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari strategi “peningkatan nilai secara sistematis”. Perusahaan menegaskan bahwa langkah tersebut bukan sekadar diskon jangka pendek, melainkan upaya memperluas akses konsumen terhadap produk BMW tanpa mengorbankan posisi merek.
Strategi ini juga sejalan dengan pendekatan “In China, For China”, di mana BMW menyesuaikan produk, harga, dan strategi pemasaran sesuai karakter pasar domestik China. Setelah penyesuaian harga dilakukan, jumlah model BMW yang dipasarkan di bawah ambang harga menengah meningkat signifikan.
Saat ini, model BMW termurah di China dipasarkan dengan harga yang setara dengan SUV buatan produsen lokal. Kondisi ini memperlihatkan betapa ketatnya persaingan, bahkan di segmen yang sebelumnya didominasi merek internasional.
Tekanan harga yang dialami BMW juga dirasakan merek premium global lainnya seperti Mercedes-Benz dan Audi. Untuk mempertahankan volume penjualan, merek-merek tersebut terpaksa menjual kendaraan di bawah harga ritel yang sebelumnya direkomendasikan.
Analis menilai, pemangkasan harga ini menjadi sinyal bahwa lanskap industri otomotif China tengah berubah cepat. Di tengah perang harga dan percepatan adopsi kendaraan listrik, produsen global dituntut lebih fleksibel agar tidak tersingkir oleh kekuatan lokal.






