Amerika Serikat Resmi Keluar dari UNFCCC dan IPCC Picu Kecaman Dunia

icon berita mobile

- Penulis Berita

Senin, 12 Januari 2026 - 14:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Amerika Serikat Resmi Keluar dari UNFCCC dan IPCC Picu Kecaman Dunia

Amerika Serikat Resmi Keluar dari UNFCCC dan IPCC Picu Kecaman Dunia

Keputusan besar baru saja diambil oleh pemerintah Amerika Serikat yang secara resmi menyatakan menarik diri dari Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim atau UNFCCC.

Langkah ini tidak berhenti sampai di situ karena Washington juga memutuskan untuk meninggalkan panel iklim internasional yang dikenal sebagai IPCC.

Penarikan diri ini langsung memicu gelombang reaksi keras dari berbagai penjuru dunia.

Para pemimpin negara dan pakar lingkungan menyatakan keprihatinan mendalam atas kebijakan yang diambil oleh negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Banyak pihak menilai bahwa tindakan Amerika Serikat ini merupakan pukulan telak bagi upaya kolaborasi global. Selama ini, UNFCCC dan IPCC menjadi pilar utama dalam merumuskan strategi bersama untuk menghadapi ancaman pemanasan global yang kian nyata.

Keputusan Washington untuk keluar dari kesepakatan iklim PBB dianggap sebagai langkah mundur yang berbahaya. Tanpa keterlibatan aktif dari Negeri Paman Sam, beban untuk menekan emisi karbon dunia kini beralih sepenuhnya ke pundak negara-negara lain.

Kecaman demi kecaman terus mengalir dari negara-negara sekutu maupun organisasi internasional. Mereka berpendapat bahwa perubahan iklim adalah masalah lintas batas yang tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja tanpa adanya sinergi global yang kuat.

Risiko ekonomi jangka panjang menjadi salah satu sorotan utama dari para ahli yang mengkritik langkah ini. Banyak yang memperingatkan bahwa mengabaikan isu iklim justru akan membebani ekonomi global dengan biaya bencana yang jauh lebih tinggi di masa depan.

Baca Juga :  Israel Akui Somaliland, Somalia Tuding Rencana Tersembunyi Relokasi Rakyat Palestina

Investasi pada sektor energi terbarukan di Amerika Serikat dikhawatirkan akan mengalami stagnasi akibat perubahan arah kebijakan ini. Padahal, tren ekonomi dunia saat ini sedang bergerak menuju teknologi hijau yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Para ilmuwan yang tergabung dalam IPCC juga menyatakan kekecewaan mereka atas hilangnya dukungan dari pemerintah Amerika Serikat.

Selama ini, kontribusi data dan riset dari institusi Amerika sangat membantu dalam menyusun laporan penilaian iklim dunia yang akurat.

Langkah Amerika Serikat keluar dari UNFCCC dinilai akan melemahkan posisi tawar kesepakatan internasional lainnya.

Negara-negara berkembang mungkin akan merasa kurang termotivasi untuk melakukan transisi energi jika negara maju seperti AS justru memilih jalan sendiri.

Dunia internasional kini tengah meraba-raba bagaimana format kerja sama iklim di masa depan tanpa kehadiran resmi Amerika Serikat. Kekosongan kepemimpinan ini diprediksi akan mengubah peta geopolitik lingkungan global secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Sejumlah pengamat politik menyebutkan bahwa langkah ini kemungkinan didorong oleh prioritas domestik tertentu yang lebih mengedepankan industri konvensional. Namun, harga yang harus dibayar di tingkat global dianggap terlalu mahal oleh banyak pihak di luar sana.

Transisi energi yang sedang diupayakan oleh banyak negara kini menghadapi ketidakpastian baru. Kepercayaan antarnegara dalam negosiasi iklim seringkali bergantung pada komitmen negara-negara penghasil emisi terbesar, termasuk Amerika Serikat.

Efek domino dari kebijakan ini mulai terlihat dengan munculnya perdebatan di internal negara-negara lain mengenai komitmen iklim mereka masing-masing. Jika satu pemain kunci keluar, maka stabilitas seluruh sistem kesepakatan internasional menjadi goyah.

Baca Juga :  Gelombang Protes di Iran Meluas dan Berujung Bentrokan Berdarah di Berbagai Kota

Beberapa pemimpin dunia menyatakan akan tetap melanjutkan komitmen mereka meskipun tanpa dukungan dari Washington.

Mereka menegaskan bahwa krisis iklim tidak akan menunggu keputusan politik satu negara untuk terus bergerak merusak ekosistem bumi.

Para pakar ekonomi mengingatkan bahwa kerugian akibat perubahan iklim seperti banjir, badai, dan kekeringan tidak mengenal paspor atau batas negara.

Tanpa mitigasi yang terkoordinasi melalui wadah seperti IPCC, dampak ekonomi yang timbul bisa menghancurkan rantai pasok global.

Amerika Serikat sebelumnya memang memiliki rekam jejak yang naik turun dalam komitmen iklim internasional. Namun, penarikan diri secara resmi dari UNFCCC dan IPCC kali ini dianggap sebagai level eskalasi yang jauh lebih serius.

Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, keputusan ini memicu polarisasi yang tajam antara kelompok pro-lingkungan dan pendukung industri energi fosil. Debat mengenai kedaulatan nasional versus tanggung jawab global kembali memanas di ruang publik.

Organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan mulai melakukan konsolidasi untuk menekan pemerintah agar meninjau ulang keputusan tersebut. Mereka khawatir warisan lingkungan bagi generasi mendatang akan hancur akibat kebijakan jangka pendek ini.

IPCC sebagai badan ilmiah yang memberikan panduan kebijakan iklim kini harus mencari cara untuk menutupi celah pendanaan dan riset yang ditinggalkan Amerika. Proses ini tentu tidak mudah mengingat besarnya pengaruh intelektual dan finansial dari negara tersebut.

Baca Juga :  Sekjen PBB Desak Israel Batalkan Larangan Organisasi Bantuan Kemanusiaan di Gaza

Beberapa negara besar lainnya seperti Tiongkok dan Uni Eropa kini diharapkan bisa mengambil peran kepemimpinan yang lebih dominan.

Dunia membutuhkan dirigen baru untuk memimpin orkestra perlindungan bumi di tengah mundurnya salah satu pemain utamanya.

Ancaman kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem terus berlanjut tanpa memedulikan status keanggotaan sebuah negara dalam konvensi PBB.

Fakta ilmiah yang disajikan oleh para ahli iklim tetap menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup manusia.

Penarikan diri ini secara otomatis akan mengubah prosedur administrasi dan pelaporan emisi yang selama ini dikoordinasikan oleh UNFCCC. Banyak proyek bantuan iklim untuk negara miskin yang sumber dananya berasal dari kontribusi Amerika kini berada dalam ketidakpastian.

Sejarah akan mencatat momen ini sebagai titik balik penting dalam upaya manusia menyelamatkan planet dari kerusakan iklim. Apakah kolaborasi global akan tetap bertahan atau justru runtuh perlahan setelah keputusan Washington ini, masih menjadi pertanyaan besar.

Dunia internasional masih menunggu apakah ada ruang untuk negosiasi ulang atau apakah ini adalah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat. Untuk saat ini, kecaman dan kekhawatiran masih menjadi reaksi dominan dari komunitas global atas langkah Amerika Serikat tersebut.

Kerja sama internasional melawan perubahan iklim kini memasuki babak baru yang penuh tantangan dan hambatan politik yang tidak ringan.

Harapan akan bumi yang lebih hijau tetap ada, namun jalannya kini terasa semakin terjal dan berliku bagi semua bangsa.

Berita Terkait

Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India
Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang
Kanada Berupaya Bergabung dalam Proyek Jet Tempur Global Combat Air Programme
Akhir Pelarian Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori
Veda Ega Pratama, Media Italia Sebut Ia Berbeda dari Pembalap Asia Lainnya
IPO GIFT City Pertama di India Resmi Dibuka 16 Maret, Era Baru Finansial
Hizbullah Serang Israel, Eskalasi Ketegangan di Perbatasan Lebanon
AI Mengubah Lapangan Kerja di Rumania, Transformasi dan Masa Depan

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 15:01 WIB

Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India

Minggu, 12 April 2026 - 11:05 WIB

Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang

Jumat, 10 April 2026 - 20:12 WIB

Kanada Berupaya Bergabung dalam Proyek Jet Tempur Global Combat Air Programme

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:03 WIB

Akhir Pelarian Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori

Senin, 23 Maret 2026 - 21:15 WIB

Veda Ega Pratama, Media Italia Sebut Ia Berbeda dari Pembalap Asia Lainnya

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB