Ribuan penerbangan di seluruh Amerika Serikat mengalami gangguan besar menyusul penutupan pemerintah federal sejak 1 Oktober 2025. Kekurangan pengendali lalu lintas udara membuat sejumlah bandara terpaksa menutup sebagian operasinya, sementara ribuan penerbangan lainnya tertunda.
Pada 7 Oktober, data menunjukkan lebih dari 6.000 penerbangan tertunda di berbagai wilayah, terutama di kota-kota padat seperti New York, Los Angeles, dan Denver. Krisis ini terjadi akibat mandeknya kesepakatan antara Partai Republik dan Demokrat terkait anggaran fiskal 2026, memaksa pemerintah menonaktifkan sebagian besar kegiatan non-esensial.
Sekitar 750.000 pegawai federal dilaporkan dirumahkan sementara. Meski lembaga penting seperti Administrasi Penerbangan Federal (FAA) tetap beroperasi, sebagian besar petugas kontrol lalu lintas udara harus bekerja tanpa menerima gaji selama masa penutupan. Beberapa di antaranya bahkan mulai melapor sakit atau mengambil cuti, memperparah kekurangan tenaga kerja di sektor penerbangan.
Situasi paling parah terjadi di Bandara Hollywood Burbank, Los Angeles, yang harus menghentikan operasi pengendalian udara pada malam 5 Oktober karena tidak ada cukup personel. FAA juga melaporkan kekurangan staf di bandara Nashville, Boston, Chicago, dan Philadelphia, sehingga jadwal penerbangan di beberapa lokasi harus dikurangi untuk menjaga keselamatan.
Menteri Transportasi Sean Duffy menegaskan bahwa wilayah udara Amerika Serikat masih aman. Namun, ia mengakui meningkatnya jumlah pengendali lalu lintas udara yang tidak masuk kerja menjadi tantangan serius. “Ketika jumlah pengendali terbatas, FAA harus mengurangi frekuensi lepas landas dan pendaratan agar keselamatan tetap terjaga,” ujarnya pada 5 Oktober.
Sementara itu, Serikat Pengendali Lalu Lintas Udara Nasional (NATCA) yang mewakili sekitar 20.000 anggota mengungkapkan bahwa para pengendali kini bekerja 10 jam sehari, enam hari seminggu, untuk memastikan keselamatan penerbangan. Namun, mereka menilai beban kerja tinggi tanpa kepastian gaji menciptakan tekanan psikologis besar bagi petugas.
“Penutupan pemerintah memberi dampak yang tidak perlu terhadap pengoperasian wilayah udara paling kompleks di dunia,” tulis pernyataan resmi NATCA. Serikat itu juga mengingatkan bahwa penutupan serupa pada tahun 2019 membuat banyak pengendali harus mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Ketua NATCA Nick Daniels memperingatkan bahwa situasi ini bisa memburuk jika kebuntuan politik terus berlanjut. “Sulit mengharapkan pengendali fokus sepenuhnya pada pekerjaannya ketika mereka tidak dibayar,” ujarnya. Daniels menambahkan, meski pemerintah biasanya memberikan pembayaran retroaktif setelah penutupan berakhir, Gedung Putih belum bisa menjamin hal itu kali ini.
“Tidak adil memaksa para pengendali menghadapi ketidakpastian berapa lama situasi politik ini akan berlangsung. Ketika tabungan mereka habis, mereka harus membuat keputusan besar dalam hidupnya,” tegas Daniels.
Penutupan pemerintah AS kali ini menjadi ujian berat bagi industri penerbangan, memperlihatkan rapuhnya sistem logistik udara ketika politik anggaran federal menemui jalan buntu.






