Arsenal musim 2025-2026 menunjukkan performa defensif yang solid, bahkan melampaui rekor skuad “Invincibles” 2003-2004. Pasukan Mikel Arteta kini menjelma menjadi tim pragmatis yang sulit ditembus, mencatat enam kemenangan beruntun tanpa kebobolan dan hanya kemasukan tiga gol dalam sembilan laga Liga Premier.
Rapatnya pertahanan Arsenal musim ini menjadi yang terbaik di lima liga top Eropa. Blokade baja yang digalang David Raya, Saliba, Magalhaes, Timber, dan Riccardo Calafori baru kebobolan tiga gol dari 14 laga di semua kompetisi.
Berbeda dengan era Arsene Wenger yang terkenal dengan sepak bola ofensif indah, Arteta telah membentuk Arsenal yang lebih efektif dan terorganisir. Sejak Maret 2023, Arsenal tidak pernah kebobolan lebih dari dua gol dalam satu laga, sebuah bukti konsistensi pertahanan jangka panjang. “Itu tidak datang dari keberuntungan. Kami berlatih setiap hari untuk menjadi stabil,” kata Arteta.
Kekuatan defensif ini, menurut para analis, adalah evolusi taktis Arteta yang sengaja mengorbankan kebebasan menyerang demi meraih gelar juara Liga Premier. Fondasi pertahanan kokoh ini kini menjadi platform kemenangan Arsenal, bukan sekadar pencapaian statistik defensif musiman, katanya.
Jika pertahanan adalah fondasi, bola mati menjadi senjata utama Arsenal musim ini. Di bawah arahan Nicolas Jover, tendangan sudut menjadi mesin gol yang mematikan, dieksekusi sempurna oleh Bukayo Saka di kanan dan Declan Rice di kiri.
Saka kini memiliki tingkat akurasi tendangan sudut sukses tertinggi di Liga Premier (68%), yang menargetkan area tiang jauh untuk Saliba atau Magalhaes. Sementara itu, Declan Rice menjadi satu-satunya pemain di Top 10 yang akurat di ketiga zona kotak 5,5 meter, menunjukkan fleksibilitas taktik bola mati “The Gunners”.
Dominasi Arsenal musim ini, yang disebut media Spanyol “tidak dapat ditindik”, memang menuai perdebatan karena dianggap terlalu defensif. Namun, jika Raya mampu menjaga clean sheet di dua laga berikutnya melawan Burnley dan Sunderland, Arsenal akan menyamai rekor legendaris Chelsea era Mourinho, dan membuktikan bahwa pragmatisme adalah jalan baru “The Gunners” untuk kembali meraih trofi.






