Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA) mengusulkan solusi radikal untuk memaksa pemilik Plug-in Hybrid (PHEV) agar rutin mengisi daya baterai mobil mereka. Usulan ini bertujuan memastikan mobil PHEV benar-benar digunakan dalam mode listrik, bukan hanya mengandalkan mesin bensin.
Presiden VDA Holdegard Müller, dalam wawancaranya dengan media lokal, Rabu (5/11/2025), mengusulkan agar kapasitas output tenaga mobil PHEV dibatasi secara otomatis. Pembatasan ini akan aktif jika sistem mendeteksi mobil telah menempuh jarak tertentu tanpa pernah dicolokkan ke pengisi daya.
“Di masa depan, PHEV dapat dirancang agar pengisian reguler menjadi wajib. Pengemudi PHEV diminta untuk mengisi daya mobil setelah jarak tertentu. Jika tidak dikenakan biaya, kapasitas output mobil akan terbatas. Pada titik ini, pengemudi perlu menggunakan soket pengisian mobil untuk memaksimalkan kapasitas output,” kata Holdegard Müller.
Usulan ‘paksa’ isi daya PHEV ini muncul setelah berbagai studi mengungkap fakta bahwa banyak pemilik mobil hibrida plug-in di Eropa tidak pernah mengisi daya baterai mereka. Akibatnya, emisi CO2 riil di jalan raya jauh lebih tinggi dari klaim pabrikan, karena mobil PHEV tersebut praktis hanya beroperasi menggunakan mesin bensin sepanjang waktu.
Usulan VDA ini, menurut analis industri, adalah langkah putus asa untuk menyelamatkan reputasi teknologi PHEV di mata regulator Uni Eropa yang semakin ketat. Jika pemilik PHEV tidak ‘dipaksa’ mengisi daya, teknologi ini berisiko kehilangan insentif pajak karena dianggap gagal berkontribusi pada target pengurangan emisi yang sesungguhnya, katanya.
Meskipun VDA tidak merinci mekanisme teknisnya, efektivitas usulan ini akan bergantung pada interval jarak yang ditetapkan. Jika pembatasan daya aktif setelah 1.600 km, aturan ini mungkin efektif. Namun, jika batasan diatur terlalu pendek, misalnya 160 km, kebijakan ini dikhawatirkan akan memicu frustrasi pengguna karena lamanya waktu pengisian daya baterai PHEV.
Wacana pembatasan tenaga PHEV di Jerman ini menjadi sinyal keras bagi industri otomotif global bahwa era “kepatuhan palsu” akan segera berakhir. Masa depan mobil hibrida kini tidak hanya bergantung pada teknologi baterai, tetapi juga pada kemampuan produsen untuk ‘memaksa’ penggunanya agar benar-benar berkendara ramah lingkungan.






