Pemerintah China meningkatkan kewaspadaan nasional setelah insiden kebakaran besar di Hong Kong menelan korban jiwa dalam jumlah signifikan. Tragedi yang menimpa kompleks apartemen Wang Fuk Court itu mendorong Beijing menginstruksikan pemeriksaan keselamatan kebakaran secara menyeluruh di berbagai gedung bertingkat tinggi di seluruh wilayahnya.
Arahan tersebut disampaikan Komite Keselamatan Tenaga Kerja Dewan Negara China, yang meminta pemerintah daerah segera menggelar kampanye khusus untuk mengidentifikasi dan memperbaiki potensi risiko kebakaran maupun ledakan. Kebijakan ini dipublikasikan melalui penyiar pusat CCTV, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mencegah bencana serupa terulang di kawasan padat penduduk.
Dalam pelaksanaannya, otoritas terkait akan menilai sejumlah aspek penting, mulai dari penggunaan material bangunan yang mudah terbakar hingga keberadaan perancah bambu atau jaring pengaman yang tidak memenuhi standar tahan api. Selain itu, kesiapan sistem proteksi kebakaran serta jalur evakuasi darurat juga menjadi indikator utama yang wajib diperiksa. Perhatian khusus ditujukan pada bangunan yang tengah menjalani renovasi dinding luar maupun perbaikan bagian interior, karena tahap konstruksi menjadi salah satu periode paling rawan kebakaran.
Departemen Manajemen Darurat China menyatakan bahwa seluruh daerah diminta memperlakukan instruksi ini sebagai prioritas nasional. Pengawasan perlu dilakukan secara ketat dan berkelanjutan agar dapat memberikan hasil yang nyata. Semua pelanggaran yang ditemukan akan dikenai sanksi tegas untuk memastikan setiap pengelola gedung mematuhi peraturan keselamatan.
Kebijakan ini muncul hanya beberapa hari setelah Hong Kong diguncang salah satu kebakaran paling mematikan dalam hampir delapan dekade. Api melahap blok apartemen Wang Fuk Court, kompleks besar yang menampung sekitar 2.000 unit hunian dan lebih dari 4.000 penduduk. Kebakaran terjadi pada 26 November dan berlangsung hingga 40 jam sebelum berhasil dipadamkan. Tragedi tersebut mengakibatkan sedikitnya 128 orang meninggal dunia dan sekitar 200 lainnya masih belum ditemukan, memicu duka mendalam bagi kota tersebut.
Laporan awal dari Direktur Departemen Keamanan Hong Kong Chris Tang menyebut bahwa api diduga bermula dari jaring pengaman di lantai bawah bangunan. Material busa yang mudah terbakar mempercepat penyebaran api ke lantai-lantai atas. Situasi diperburuk oleh perancah bambu serta jaring pelindung yang ikut terbakar, menyebabkan bagian-bagian bambu jatuh dan memicu kobaran api di titik lain.
Insiden ini menyoroti risiko besar pada bangunan tinggi yang masih memakai material tidak tahan api, terutama yang sedang mengalami perawatan atau konstruksi. Pemerintah China berharap langkah pemeriksaan nasional yang diperketat dapat mencegah potensi tragedi serupa dan meningkatkan kesadaran keselamatan di kalangan pengembang maupun penghuni gedung.






