Stadion Ramón Sánchez-Pizjuán pada Minggu, 5 Oktober 2025, menjadi saksi bisu kehancuran raksasa Catalan. Barcelona secara tragis dibantai oleh Sevilla dengan skor telak 4-1 dalam lanjutan Liga Spanyol pekan kedelapan. Kekalahan ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga merupakan tamparan keras bagi skuad yang dilatih oleh Hansi Flick.
Hasil memalukan ini langsung menghentikan rentetan performa positif Barca. Lebih jauh lagi, kekalahan besar ini menggagalkan ambisi mereka untuk merebut puncak klasemen dari rival abadi, Real Madrid. Kini, Blaugrana harus puas tertahan di posisi kedua dengan perolehan 19 poin.
Titik balik dan drama utama dalam pertandingan LaLiga yang panas ini terpusat pada satu momen di babak kedua. Momen itu melibatkan striker veteran mereka, Robert Lewandowski.
Pada menit ke-76, Barcelona mendapat hadiah penalti yang sangat krusial. Ini adalah kesempatan emas untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan menghidupkan kembali semangat tim.
Namun, striker asal Polandia itu gagal menjalankan tugasnya dengan baik.
Tembakan Lewandowski meleset dari gawang. Kegagalan eksekusi penalti tersebut bukan hanya sekadar kegagalan mencetak gol, tetapi menjadi petaka yang meruntuhkan mentalitas seluruh tim tamu.
Sebelum penalti itu, di babak pertama, Sevilla sudah unggul 2-1. Gol-gol tuan rumah dicetak oleh Alexis Sánchez, mantan pemain Barca, dan Isaac Romero.
Meskipun tertinggal, Barcelona sempat menunjukkan reaksi positif. Marcus Rashford, yang mengisi lini serang, berhasil menipiskan ketertinggalan di penghujung babak pertama. Menerima umpan matang dari Pedri, striker asal Inggris tersebut menuntaskan peluang menjadi gol sundulan pada menit ke-45+7. Skor 2-1 menutup babak pertama.
Memasuki paruh kedua, pelatih Hansi Flick segera mencoba melakukan penyesuaian. Dia melakukan perubahan taktik dengan memasukkan Eric García dan Alejandro Balde. Flick berharap perubahan ini bisa meningkatkan daya dobrak timnya.
Upaya ini sempat menghasilkan peluang emas, yakni tendangan penalti yang sayangnya gagal dimanfaatkan Lewandowski. Gagalnya kesempatan emas untuk menyamakan skor ini secara efektif menggeser momentum pertandingan sepenuhnya ke tangan tim tuan rumah.
Meskipun Barcelona unggul dalam dominasi penguasaan bola, Sevilla membuktikan diri jauh lebih efektif dan klinis.
Tim Andalusia ini bermain dengan gaya agresif, berhasil menekan build-up serangan Barcelona, dan mengandalkan transisi cepat yang sangat mematikan. Tim asuhan Almeyda tahu persis cara memanfaatkan kelemahan lawan.
Sevilla memanfaatkan keruntuhan mental tim Catalan pasca-penalti yang gagal.
Di menit ke-90, José Ángel Carmona sukses menambah keunggulan menjadi 3-1, seakan memastikan kemenangan mereka.
Pesta gol tuan rumah kemudian ditutup secara telak oleh pemain pengganti, Akor Adams, di menit-menit injury time (90+6), setelah menerima umpan dari Chidera Ejuke. Skor akhir 4-1 menjadi pukulan telak yang harus dibawa pulang oleh Barcelona.
Bagi Hansi Flick, kekalahan telak di Stadion Ramón Sánchez-Pizjuán ini adalah alarm keras. Ia memiliki banyak pekerjaan rumah untuk diselesaikan, terutama meninjau efektivitas serangan tim dan mentalitas para pemainnya di bawah tekanan. Dominasi penguasaan bola ternyata tidak ada artinya tanpa hasil nyata di papan skor.
Barcelona kini harus segera berbenah. Mereka tidak boleh semakin tercecer dalam perburuan gelar LaLiga musim ini. Pekan selanjutnya akan menjadi ujian lain bagi Blaugrana saat mereka akan menantang Girona, sementara Sevilla akan menjamu Real Mallorca.






