Kasus narkoba mahasiswa yang mengejutkan mengguncang Korea Selatan, mengungkap modus pemerasan terhadap orang tua di distrik Gangnam, Seoul. Peristiwa yang terjadi pada April 2023 ini bermula ketika sekelompok orang membagikan “minuman energi” gratis kepada siswa di lingkungan Daechi-dong, yang dikenal sebagai pusat bimbingan belajar.
Minuman yang diiklankan sebagai penambah fokus itu ternyata mengandung metamfetamin dan ekstasi, yang membuat tujuh siswa dinyatakan positif narkoba. Para pelaku, yang meminta kontak orang tua siswa sebagai syarat minuman gratis, kemudian memeras para orang tua senilai 100 juta won ($75.700) dengan ancaman akan melaporkan anak-anak mereka menggunakan narkoba.
Polisi menangkap empat tersangka distributor yang mengaku hanya disewa dan tidak tahu minuman itu mengandung narkoba yang diselundupkan dari China. Penyelidikan menemukan 100 botol telah disiapkan, namun polisi gagal menangkap dalang utama di balik skema pemerasan dan kasus narkoba mahasiswa ini.
Insiden di Daechi-dong ini, menurut para pengamat sosial, menyoroti kerentanan siswa yang berada di bawah tekanan akademis ekstrem di Korea Selatan. Para pelaku memanfaatkan kebutuhan siswa akan “penambah fokus” di pusat bimbingan belajar paling kompetitif, mengubahnya menjadi target empuk untuk kejahatan narkotika terorganisir, katanya.
Kasus ini memicu kemarahan publik, mendorong Presiden Yoon Suk-yeol memerintahkan “perang total” terhadap kejahatan narkoba dan membentuk unit investigasi baru berisi 840 pejabat. “Ini adalah kasus narkoba yang mengejutkan yang telah menembus jauh ke dalam dunia siswa sekolah menengah,” kata Lee Do-woon, juru bicara kantor kepresidenan.
Perkembangan terbaru mengaitkan tersangka utama kasus narkoba mahasiswa ini, seorang warga negara China bernama Li, dengan kasus penculikan dan pembunuhan seorang mahasiswa Korea di Kamboja. Peristiwa tragis ini menegaskan bahwa jaringan kejahatan narkotika di Korea Selatan semakin nekat dan memiliki jaringan lintas batas yang berbahaya.






