Sebuah kecelakaan fatal yang melibatkan mobil listrik Xiaomi SU7 Ultra di Chengdu, Tiongkok, pada 13 Oktober lalu telah memicu perdebatan sengit mengenai standar keselamatan kendaraan listrik modern. Insiden yang menewaskan satu orang ini menyoroti potensi masalah akses darurat pasca-tabrakan, terutama pada sistem penguncian pintu.
Menurut laporan polisi setempat, pengemudi diyakini mengemudi dalam keadaan mabuk. Video di lokasi kejadian menunjukkan warga berusaha memecahkan kaca jendela untuk mengevakuasi korban, memicu diskusi tentang sulitnya membuka pintu mobil setelah terjadi benturan keras.
Tidak lama setelah insiden tersebut, CEO Huawei Yu Chengdong mengunggah tulisan di media sosial yang menyoroti filosofi keselamatan perusahaannya. Meski tidak menyebut langsung kecelakaan Xiaomi, pesannya dianggap sebagai respons atas insiden tersebut dan menyoroti pentingnya fitur keselamatan canggih.
“Keselamatan adalah kemewahan terbesar. Kunci pintu tradisional bisa gagal dalam tabrakan serius, karena itu kami merancang sistem penguncian berlapis dengan modul daya cadangan untuk memastikan akses darurat tetap berfungsi,” ujar Yu Chengdong.
Yu merujuk pada sistem yang digunakan pada mobil Aito M8, yang mencakup modul kunci tabrakan (CPM) cadangan dan sistem penguncian 4 lapis untuk menjamin pintu dapat dibuka setelah kecelakaan. Hal ini berbeda dengan kunci pintu tradisional yang rentan macet jika sumber daya atau kontroler rusak akibat benturan.
Insiden tragis Xiaomi SU7 ini menjadi pengingat keras bagi industri otomotif bahwa inovasi kendaraan listrik tidak boleh hanya berfokus pada performa. Debat yang dipicu oleh kecelakaan ini mendorong standar keselamatan pasca-tabrakan, seperti sistem akses darurat, menjadi faktor krusial dalam persaingan pasar mobil listrik global.






