Pasar komoditas global bergerak berlawanan arah pada awal pekan ini. Harga emas dan perak melonjak tajam seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai, sementara harga minyak mentah justru melemah setelah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Pada pembukaan perdagangan Senin (5/1), emas spot dunia tercatat melonjak sekitar 60 dolar AS dan diperdagangkan di kisaran 4.390 dolar AS per ons. Kenaikan serupa terjadi pada perak yang melesat hampir 3 dolar AS ke level sekitar 75 dolar AS per ons. Logam mulia lain seperti platinum dan paladium juga ikut menguat.
Penguatan ini mencerminkan kecenderungan investor untuk mengamankan aset di tengah ketidakpastian geopolitik, menyusul serangan Amerika Serikat di Venezuela serta penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari lalu. Sepanjang tahun sebelumnya, emas telah menguat lebih dari 60 persen, sementara perak mencatat lonjakan hingga 160 persen, didorong oleh meningkatnya risiko global.
Berbanding terbalik dengan logam mulia, harga minyak mentah justru bergerak turun. Minyak Brent terkoreksi sekitar 0,34 dolar AS ke level 60,84 dolar AS per barel, sedangkan minyak WTI melemah sekitar 0,4 persen menjadi 56,9 dolar AS per barel.
Ekonom senior Mohamed El-Erian menilai kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang kontras. Dalam pernyataannya di platform X pada 4 Januari, mantan CEO PIMCO itu menyebut bahwa emas cenderung menguat sebagai aset perlindungan saat ketidakstabilan meningkat, sementara minyak berpotensi tertekan bergantung pada arah kepemimpinan dan kebijakan ekspor Venezuela ke depan.
Sumber yang mengetahui situasi di lapangan menyebutkan bahwa serangan AS tidak menimbulkan kerusakan langsung pada fasilitas produksi maupun kilang minyak milik perusahaan negara PDVSA. Aktivitas ekstraksi dan pemurnian dilaporkan masih berjalan normal.
Namun, dalam jangka pendek, ekspor minyak Venezuela dilaporkan mengalami gangguan serius. Pelabuhan-pelabuhan utama belum mendapatkan instruksi untuk mengizinkan kapal tanker berlayar. Sejumlah kapal yang telah memuat minyak mentah dan bahan bakar tertahan, sementara kapal lain yang seharusnya mengambil kargo terpaksa meninggalkan pelabuhan tanpa muatan.
Data dari platform pelacakan TankerTrackers menunjukkan kondisi ini berpotensi memaksa Venezuela mengurangi produksi minyak dalam waktu dekat, mengingat kapasitas penyimpanan yang semakin penuh. Situasi tersebut menambah tekanan baru bagi sektor energi negara itu di tengah ketidakpastian politik yang terus berkembang.






