Sebuah kisah pilu datang dari Kota Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand selatan, ketika banjir besar yang tiba-tiba menerjang kawasan itu membuat satu keluarga terjebak di dalam rumah selama dua hari penuh. Delapan anggota keluarga Amphorn Kaeophenkro tidak sempat menyelamatkan diri ketika air naik dengan cepat, sehingga mereka terpaksa mencari tempat paling aman di dalam rumah untuk bertahan hidup.
Bencana ini terjadi pekan lalu ketika curah hujan ekstrem mengguyur Hat Yai hingga mencapai 335 mm hanya dalam satu hari. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 300 tahun terakhir dan membuat air meluap secara mendadak. Banyak warga tidak mendapat peringatan awal sehingga proses evakuasi menjadi kacau dan sejumlah keluarga terjebak di kediaman masing-masing, termasuk keluarga Amphorn.
Setelah menyadari bahwa air terus naik, keluarga tersebut naik ke lantai dua rumah. Namun banjir yang tidak kunjung surut membuat furnitur di lantai atas ikut mengapung. Kondisi itu membuat mereka tidak bisa berdiri atau duduk di lantai, sehingga seluruh anggota keluarga hanya dapat bertahan dengan cara berpegangan pada meja, mesin cuci, serta tepi jendela—bagian kecil dari rumah yang masih cukup stabil untuk menopang tubuh.
Amphorn, perempuan berusia 44 tahun itu, mengenang bagaimana keluarganya harus mengangkat kaki agar tidak terus terendam air yang dingin. Dalam situasi gelap tanpa listrik, mereka menunggu air menyusut sambil terus menjaga satu sama lain. Selama 48 jam, tidak ada pilihan lain selain bertahan di lokasi itu sementara suara air terus memenuhi seluruh sudut rumah.
Ketika banjir berangsur surut, mereka baru mulai bisa membersihkan rumah yang dipenuhi lumpur. Hingga kini listrik di Hat Yai dan beberapa kawasan di sekitarnya belum sepenuhnya pulih. Amphorn mengaku bahwa makan malam keluarga mereka masih dilakukan di bawah cahaya lilin karena jaringan listrik belum dipastikan kapan kembali normal.
Banjir besar ini tidak hanya menenggelamkan Hat Yai, tetapi juga melanda sedikitnya sembilan provinsi di Thailand bagian selatan. Data terbaru menunjukkan 162 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Provinsi Songkhla menjadi wilayah yang paling terdampak dengan jumlah korban terbanyak, sementara sekitar 16.000 warga telah dievakuasi ke tempat penampungan darurat.
Peristiwa ini kembali mengingatkan betapa rentannya wilayah selatan Thailand terhadap cuaca ekstrem. Banjir yang datang tanpa peringatan jelas tidak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga memengaruhi kehidupan ribuan keluarga yang harus memulai kembali dari awal. Kisah keluarga Amphorn menjadi salah satu bukti bagaimana ketahanan dan harapan tetap hidup bahkan dalam situasi paling sulit.






