Dampak krisis chip semikonduktor global kembali menghantam industri otomotif. Honda Motor Co. mengumumkan perpanjangan penghentian produksi di tiga pabriknya di China selama dua pekan tambahan akibat keterlambatan pasokan chip.
Produsen mobil terbesar kedua di Jepang tersebut menyatakan bahwa fasilitas produksi yang dikelola melalui usaha patungan dengan Guangzhou Automobile Group (GAC) belum dapat kembali beroperasi sesuai jadwal. Awalnya, pabrik-pabrik tersebut direncanakan mulai berproduksi awal pekan ini, namun kini baru ditargetkan kembali aktif pada 19 Januari 2026.
Meski beroperasi di China, Honda tetap terdampak kekurangan chip yang berkaitan dengan gangguan pasokan dari Nexperia, perusahaan semikonduktor asal Belanda yang dimiliki oleh grup teknologi China Wingtech. Perselisihan perdagangan dan hambatan logistik antara China dan Belanda disebut sebagai salah satu faktor utama keterlambatan distribusi komponen.
Honda tidak secara eksplisit menyalahkan Nexperia atas penyesuaian jadwal produksi tersebut. Namun, keterlambatan pengiriman chip dari pemasok tersebut telah memengaruhi banyak produsen otomotif global dalam beberapa bulan terakhir.
Gangguan produksi Honda tidak hanya terjadi di China. Sebelumnya, perusahaan juga menghentikan sementara jalur perakitan di Meksiko, serta memangkas kapasitas produksi di sejumlah pabrik Amerika Utara sejak akhir Oktober hingga November 2025 karena masalah serupa.
Situasi ini menunjukkan bahwa rantai pasok semikonduktor global masih rapuh. Ketergantungan pada pemasok tertentu, meski untuk komponen yang relatif standar, membuat industri otomotif sangat rentan terhadap dinamika geopolitik dan konflik perdagangan antarnegara.
Di tengah tingginya permintaan chip dari sektor elektronik konsumen dan kendaraan listrik, keterbatasan pasokan terus menjadi tantangan besar. Honda bukan satu-satunya produsen yang terdampak, karena sejumlah merek otomotif global juga mengalami tekanan produksi akibat krisis chip yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.






