Keberhasilan China mendominasi pasar mobil listrik global kini memunculkan persoalan baru yang tak kalah besar: ledakan limbah baterai kendaraan listrik. Di balik pencapaian penjualan yang impresif, negara ini menghadapi ancaman serius berupa penumpukan jutaan baterai lithium-ion bekas yang berpotensi menjadi krisis lingkungan.
Dalam satu dekade terakhir, kebijakan subsidi besar-besaran mendorong lonjakan kepemilikan kendaraan listrik. Hingga akhir 2025, hampir 60 persen mobil baru yang terjual di China merupakan kendaraan listrik murni atau plug-in hybrid. Namun, umur baterai yang terbatas membuat gelombang besar limbah tak terhindarkan.
Baterai lithium-ion umumnya dianggap tidak lagi layak digunakan pada kendaraan ketika kapasitasnya turun di bawah 80 persen. Kondisi ini kini mulai dialami oleh kendaraan listrik generasi awal yang dipasarkan sejak pertengahan 2010-an, sehingga volume baterai bekas meningkat tajam.
Wang Lei (39), warga Beijing, menjadi contoh nyata fenomena ini. Ia memutuskan menjual mobil listriknya pada Agustus 2025 setelah sembilan tahun digunakan. Penurunan performa baterai yang signifikan serta habisnya masa garansi membuat biaya penggantian baterai terasa tidak masuk akal.
Alih-alih memperbaiki, Wang memilih menjual mobilnya melalui pengepul baterai yang ia temukan di platform Douyin. Ia melepas kendaraan tersebut seharga 8.000 yuan atau sekitar Rp17,6 juta. Ditambah insentif pemusnahan kendaraan dari pemerintah, total dana yang ia terima mencapai 28.000 yuan atau sekitar Rp61,6 juta.
Bagi Wang, keputusan itu menutup satu bab. Namun bagi China, justru membuka persoalan baru. Baterai bekas yang dijual ke jalur tidak resmi kerap berakhir di fasilitas daur ulang ilegal yang minim standar keselamatan dan lingkungan.
Lonjakan ini memicu berkembangnya pasar abu-abu baterai bekas, di mana modul lithium-ion dibongkar tanpa prosedur aman. Praktik tersebut berisiko mencemari tanah dan air akibat kandungan logam berat serta bahan kimia berbahaya.
Para analis memperkirakan, tanpa pengelolaan yang ketat, total limbah baterai kendaraan listrik di China bisa mencapai sekitar 1 juta ton pada 2030. Angka ini menjadikan baterai EV sebagai salah satu tantangan lingkungan terbesar dalam transisi energi bersih.
Pemerintah China sebenarnya tengah mempercepat pembangunan sistem daur ulang resmi dan berkelanjutan. Namun, perbedaan harga yang signifikan antara jalur resmi dan pengepul ilegal masih menjadi celah yang sulit ditutup.
Di tengah ambisi besar menjadi pemimpin kendaraan listrik dunia, China kini dihadapkan pada dilema baru: memastikan transisi hijau tidak justru melahirkan krisis lingkungan di masa depan.






