Masa depan bek tengah sekaligus kapten Crystal Palace, Marc Guéhi, menemui titik terang yang suram bagi para pendukung The Eagles.
Pemain kunci tersebut telah mengonfirmasi bahwa ia tidak akan menandatangani perpanjangan kontrak yang ditawarkan oleh klub, sebuah keputusan yang memastikan kepergiannya pada akhir musim atau lebih cepat. Ini adalah pukulan telak bagi rencana jangka panjang Crystal Palace.
Keputusan Guéhi untuk menolak kontrak baru memang telah menjadi spekulasi panas di bursa transfer. Kontrak sang bek bersama klub London tersebut sejatinya akan habis pada musim panas 2026. Namun, dengan penolakan ini, Crystal Palace kini menghadapi dilema besar: menjual aset berharga tersebut secepat mungkin, atau menanggung risiko kehilangannya secara gratis.
Bek tangguh berusia 25 tahun itu dikenal sebagai salah satu pilar utama di lini pertahanan Palace sejak kedatangannya dari Chelsea pada tahun 2021. Tak hanya itu, perkembangan pesatnya juga membuatnya menjadi bagian reguler dalam skuad Tim Nasional Inggris.
Peran pentingnya di Selhurst Park terlihat jelas. Guéhi, yang juga mengenakan ban kapten, menjadi figur sentral di bawah manajer Oliver Glasner.
Keengganan untuk memperpanjang ikatan kontrak ini sebenarnya bukan kejutan. Pada bursa transfer musim panas lalu, nama Marc Guéhi menjadi target utama sejumlah klub elite Eropa, termasuk raksasa Liga Primer, Liverpool.
Bahkan, kepindahan ke Anfield nyaris terwujud.
Diberitakan, Liverpool telah mencapai kesepakatan harga senilai sekitar $\text{£}35$ juta dengan Palace di detik-detik akhir penutupan bursa. Namun, transfer itu batal total.
Pembatalan transfer dramatis tersebut terjadi karena Crystal Palace gagal mengamankan pemain pengganti yang memadai sebelum batas waktu. Chairman Palace, Steve Parish, pada saat itu mengakui bahwa keputusan sulit tersebut harus diambil.
Parish menjelaskan bahwa pertimbangan stabilitas tim dan ancaman mundurnya manajer Oliver Glasner menjadi alasan utama. Kehilangan Guéhi tanpa ada pengganti sepadan dikhawatirkan akan merusak persiapan klub yang kala itu akan berpartisipasi di kompetisi Eropa.
Kini, situasi telah berubah. Guéhi, dengan sisa kontrak yang semakin menipis, berada di posisi yang sangat diuntungkan. Dia memiliki kendali penuh atas langkah karier berikutnya.
Dengan penolakan kontrak baru yang bersifat final ini, Crystal Palace diprediksi akan mengambil langkah preventif. Klub diyakini bakal menjual Guéhi pada bursa transfer Januari 2026 mendatang.
Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pemasukan yang signifikan, alih-alih melihatnya pergi sebagai pemain bebas transfer enam bulan kemudian. Tentu saja, angka transfer yang diminta diperkirakan tidak akan jauh berbeda dari tawaran Liverpool sebelumnya.
Liverpool, klub yang paling getol mengejar jasa Guéhi, diperkirakan akan kembali aktif. Namun, The Reds tidak sendirian.
Sejumlah laporan dari Inggris dan Jerman menyebutkan bahwa klub-klub papan atas lain siap menelikung. Inter Milan, yang telah lama memantau situasi sang bek, disebut-sebut siap bersaing.
Ancaman terbesar datang dari raksasa Bundesliga, Bayern Munchen.
Klub Bavaria tersebut dilaporkan sudah mulai bermanuver di balik layar. Bayern Munchen dikabarkan sedang mencari pengganti untuk Dayot Upamecano, yang kontraknya juga akan berakhir, dan melihat Marc Guéhi sebagai profil ideal.
Menariknya, kampanye perekrutan Bayern bahkan melibatkan rekan setim Guéhi di Timnas Inggris, Harry Kane, serta mantan rekan setimnya di Palace, Michael Olise. Kedua pemain tersebut secara aktif membujuk Guéhi untuk mencoba tantangan baru di Jerman.
Meskipun transfer ke Liverpool batal, Guéhi menunjukkan profesionalisme tinggi. Dia tetap fokus membela Crystal Palace, konsisten menjadi bek tangguh dan pemimpin di lapangan, tidak terpengaruh oleh saga transfer yang gencar.
Kontribusinya terbukti vital. Guéhi adalah bagian integral dari pertahanan The Eagles yang meraih gelar Piala FA pertama mereka sepanjang sejarah pada musim sebelumnya, sebuah pencapaian yang menandai perkembangan pesat klub tersebut.
Kepergian Guéhi, cepat atau lambat, akan meninggalkan lubang besar dalam skuad Palace. Dia bukan hanya kapten, tetapi juga jantung pertahanan tim.
Satu hal yang pasti, keputusan Guéhi telah mengirim sinyal jelas ke seluruh Eropa: salah satu bek tengah muda terbaik Inggris akan segera tersedia.
Kini, pertanyaan besarnya adalah klub mana yang akan memenangkan perburuan sang bek di bursa transfer musim dingin atau musim panas berikutnya. Apakah Liverpool akhirnya berhasil mendaratkannya, atau justru klub dari liga lain seperti Bayern Munchen yang akan menjadi pelabuhan baru baginya?
Keputusan menolak kontrak tersebut juga mengindikasikan ambisi Guéhi. Dia tampaknya bertekad untuk pindah ke klub yang secara reguler bersaing di level Liga Champions, sebuah panggung yang sepadan dengan perkembangan karier internasionalnya bersama Timnas Inggris, termasuk partisipasinya di Euro 2024.
Maka, Crystal Palace harus segera bergerak. Mereka perlu mengidentifikasi dan mengamankan pengganti yang berkualitas sebelum kehilangan Marc Guéhi sepenuhnya, baik dengan biaya transfer di bulan Januari 2026 atau secara gratis enam bulan setelahnya. Negosiasi kontrak baru sudah final ditolak, babak baru perburuan transfer Guéhi telah dimulai.






