Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MbS) mencatat “pencapaian diplomatik paling spektakuler” pasca kunjungan resminya ke Gedung Putih, 18 November 2025. MbS berhasil mengamankan kesepakatan besar, termasuk izin penjualan jet tempur F-35 dan teknologi chip AI canggih dari Amerika Serikat (AS).
Kunjungan ini diwarnai kontroversi, di mana Presiden AS Donald Trump secara terbuka membela MbS dari pertanyaan wartawan terkait pembunuhan Jamal Khashoggi. Trump bahkan menyebut Khashoggi “sangat kontroversial” dan menegaskan Pangeran bin Salman “tidak tahu apa-apa” tentang pembunuhan itu.
AS merespons positif dengan menetapkan Arab Saudi sebagai “sekutu kunci di luar NATO,” sebuah status yang jarang diberikan. Amerika Serikat kini mempromosikan rencana penjualan jet tempur F-35 yang “mendekati fitur yang sama” seperti yang digunakan Israel. Profesor Mohamad Elmasry menilai capaian ini sebagai pencapaian paling penting, “Dapat dikatakan bahwa ini adalah pencapaian paling penting yang telah dicapai Mohammed bin Salman,” kata Profesor Mohamad Elmasry.
Keberhasilan MbS mengamankan F-35 tanpa syarat normalisasi penuh dengan Israel, menurut Elmasry, menjadi titik balik utama dalam negosiasi pertahanan kedua negara. Washington kini memprioritaskan aliansi pertahanan strategis (F-35, AI, nuklir) untuk mengimbangi pengaruh Iran, bahkan dengan mengesampingkan tuntutan politik dan hak asasi manusia, katanya.
Untuk mendukung diversifikasi ekonomi Saudi (Vision 2030), kedua pihak juga menyepakati kerangka kerja sama AI, termasuk penjualan chip canggih untuk perusahaan AI kerajaan, Humain. Selain itu, perjanjian mineral strategis ditandatangani, membuka jalan kerja sama nuklir sipil, meskipun AS menolak izin pengayaan uranium mandiri.
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menutup kunjungan dengan optimisme, “Hari ini adalah momen yang sangat penting dalam sejarah kita,” katanya. Kunjungan ini menegaskan MbS berhasil memposisikan Arab Saudi sebagai mitra strategis vital AS, mengamankan akses teknologi dan pertahanan yang dibutuhkan untuk memimpin persaingan AI di Timur Tengah.






