Nissan Motor mencatat laba operasi $342 juta pada kuartal kedua tahun fiskal 2025 (Juli-September), membalikkan kerugian di kuartal pertama. Laba tertinggi dalam setahun ini didorong oleh restrukturisasi global dan penjualan kuat di Amerika Utara, meski perusahaan tetap mempertahankan proyeksi rugi setahun penuh.
Laba operasi $342 juta (51,5 miliar yen) ini naik 61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, jauh melampaui prediksi analis LSEG yang memperkirakan kerugian. Hasil positif ini merupakan buah dari rencana restrukturisasi drastis CEO Ivan Espinosa, yang memangkas pabrik global dari 17 menjadi 10 dan merampingkan 15 persen tenaga kerja.
Espinosa mengatakan penjualan di Amerika Utara meningkat tajam berkat strategi pemasaran yang lebih terfokus pada model produksi lokal. Meski demikian, Espinosa menegaskan Nissan tetap mempertahankan perkiraan rugi setahun penuh sebesar 275 miliar yen, “Ini adalah tahun transfer, jadi jumlahnya sama sekali tidak tinggi, tetapi dibandingkan dengan tujuan awal, kami mengalami kemajuan sesuai jadwal,” kata Espinosa.
Proyeksi rugi ini, menurut Espinosa, didorong oleh risiko tarif tinggi di AS dan gangguan rantai pasokan, terutama krisis kekurangan chip dari Nexperia (Belanda). Krisis chip Nexperia telah memaksa Nissan mengumumkan rencana pemotongan produksi X-Trail di Jepang minggu depan dan penghentian produksi di pabrik COMPAS Meksiko mulai akhir November.
Laporan laba kuartal kedua Nissan ini menjadi paradoks di tengah ancaman krisis chip Nexperia yang membayangi. Keberhasilan restrukturisasi di Amerika Utara terbukti mampu menopang profitabilitas jangka pendek, namun ketergantungan rantai pasok pada satu komponen vital kini menjadi pertaruhan terbesar yang dapat menghapus seluruh capaian positif tersebut di sisa tahun fiskal.
Di pasar domestik Jepang, penjualan ritel Nissan justru turun 16,5 persen akibat kekhawatiran konsumen terhadap situasi keuangan perusahaan. Meski laba kuartal kedua ini menunjukkan tanda pemulihan, Nissan masih harus berjuang keras mengatasi tantangan eksternal dari tarif AS dan krisis chip Nexperia untuk meyakinkan kembali investor dan pelanggan.






