Lionel Messi baru saja menutup musim MLS 2025 dengan capaian individu gemilang, memecahkan rekor gol non-penalti dan memenangkan Sepatu Emas sebagai top scorer. Namun, kehadiran superstar Argentina berusia 38 tahun itu di Inter Miami justru memicu paradoks: performa sublim Messi gagal mendongkrak popularitas MLS di Amerika Serikat, bahkan penonton rata-rata musim reguler turun 5,5%.
Meski Messi memenangkan Golden Boot dan memimpin statistik assist, daya tariknya di AS masih kalah dari Cristiano Ronaldo yang bermain di Arab Saudi, bahkan sempat dilampaui bintang WNBA Caitlin Clark. Harapan MLS bahwa “Messi akan membuka kegemaran” dan melipatgandakan penggemar pada 2026 tampaknya masih jauh dari kenyataan.
Data American Soccer Analysis menunjukkan kontribusi Messi (diukur via “gol yang ditambahkan”) dua kali lipat lebih tinggi dari pemain terbaik kedua di liga. Namun, fans tim lawan justru tidak puas, menuding Inter Miami menghancurkan keseimbangan liga dengan menghabiskan dana gaji dua kali lipat rata-rata MLS untuk mengumpulkan mantan bintang Barca.
Analis sepak bola AS John Muller menilai masalah inti dari paradoks Messi ini adalah lemahnya narasi kompetisi di MLS. Saat Messi mendominasi, publik menganggapnya wajar karena level liga yang rendah. Namun saat Miami (yang berisi veteran Barca) hanya finis ketiga di Wilayah Timur, publik juga mencibir, “Apa yang Anda nantikan? Mereka sudah hampir pensiun?”
Pihak MLS mengklaim total penonton mingguan naik 29%, namun angka itu didapat dari kontrak TV internasional baru, bukan dari minat domestik AS. Kegagalan serial dokumenter Apple “Messi Meets America” yang hanya mendapat 458 ulasan, jauh di bawah serial “Ted Lasso” (418.000 ulasan), membuktikan MLS belum berhasil mengubah Messi menjadi fenomena budaya massa di AS.
Di tengah paradoks Messi ini, MLS kini berharap pada babak playoff Piala MLS yang akan datang. Kultur olahraga Amerika yang menyukai format turnamen knock-out diharapkan bisa menjadi momentum baru bagi Messi untuk menaklukkan pasar olahraga terbesar di dunia, mengulang euforia saat Miami menjuarai Piala Liga 2023.






