Industri otomotif China diperkirakan menghadapi fase perlambatan pada 2026, seiring melemahnya permintaan domestik, berkurangnya dukungan kebijakan kendaraan listrik, serta meningkatnya tekanan dari ketidakpastian global.
Asosiasi Produsen Mobil China (China Association of Automobile Manufacturers/CAAM) memproyeksikan pertumbuhan penjualan kendaraan tahun 2026 hanya berada di kisaran 1 persen, turun tajam dibandingkan lonjakan 9,4 persen yang dicatatkan pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa pemulihan pasar otomotif China mulai kehilangan tenaga setelah periode ekspansi agresif.
Perlambatan juga diperkirakan terjadi pada segmen kendaraan energi baru (NEV), termasuk mobil listrik murni (BEV) dan plug-in hybrid (PHEV). CAAM memperkirakan penjualan NEV hanya tumbuh sekitar 15,2 persen pada 2026, jauh di bawah pertumbuhan 28,2 persen pada tahun sebelumnya.
Tidak hanya pasar domestik, kinerja ekspor mobil China juga diprediksi melunak. Pertumbuhan ekspor kendaraan diperkirakan hanya mencapai 4,3 persen, merosot signifikan dibandingkan proyeksi kenaikan 21,1 persen pada 2025.
Salah satu faktor utama perlambatan ini adalah perubahan arah kebijakan pemerintah. Mulai 2026, China diperkirakan tidak lagi memberikan prioritas khusus bagi kendaraan listrik dalam kerangka Rencana Lima Tahun ke-15. Kebijakan industri akan lebih menekankan persaingan pasar yang setara, dengan pengurangan bertahap terhadap insentif dan subsidi langsung bagi kendaraan listrik.
Perubahan tersebut diperkirakan memaksa produsen mobil untuk mengandalkan keunggulan teknologi, efisiensi biaya, serta daya saing produk, bukan lagi dukungan kebijakan. Di sisi lain, permintaan domestik masih tertahan oleh ketidakpastian pendapatan rumah tangga dan kekhawatiran stabilitas lapangan kerja, yang membuat konsumen menunda pembelian kendaraan.
CAAM juga menyoroti tantangan tambahan berupa pengetatan pengawasan terhadap praktik penjualan “mobil baru berstatus bekas nol kilometer”, yang selama ini digunakan untuk menghabiskan stok. Penertiban praktik ini berpotensi meningkatkan tekanan persediaan bagi produsen maupun diler dalam jangka pendek.
Di pasar global, ketegangan geopolitik dan risiko perang dagang dinilai masih akan membayangi ekspor mobil China. Selain itu, strategi produsen China yang semakin mengandalkan lokalisasi produksi di luar negeri untuk menghindari hambatan perdagangan juga diperkirakan menahan laju pertumbuhan ekspor kendaraan secara keseluruhan.






