Penjualan mobil listrik (EV) di Amerika Serikat mengalami penurunan tajam sepanjang kuartal ketiga 2024 setelah pemerintah memangkas sejumlah insentif pajak dan subsidi pembelian kendaraan ramah lingkungan.
Langkah ini menimbulkan efek langsung terhadap permintaan pasar yang sebelumnya tumbuh pesat dua tahun terakhir.
Berdasarkan data dari Cox Automotive, penjualan EV di AS turun sekitar 12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi di segmen kendaraan menengah dan SUV listrik, yang sebelumnya menjadi pendorong utama pertumbuhan industri.
Analis menilai kebijakan fiskal baru ini telah membuat harga kendaraan listrik kembali meningkat hingga rata-rata USD 3.000 per unit, sehingga daya beli konsumen menurun.
“Pemangkasan insentif federal memengaruhi kepercayaan pasar. Banyak konsumen menunda pembelian karena menunggu kebijakan baru atau potongan harga dari produsen,” kata Jessica Caldwell, analis senior di Edmunds Automotive Insights.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah AS menyeimbangkan anggaran dan memfokuskan subsidi pada infrastruktur pengisian daya (charging infrastructure), bukan langsung kepada konsumen. Namun, langkah ini justru memperlambat transisi menuju kendaraan nol emisi, terutama di wilayah suburban yang belum memiliki jaringan pengisian luas.
Sejumlah produsen seperti Ford, General Motors, dan Rivian dilaporkan mengurangi target produksi untuk 2025 karena permintaan yang melemah.
GM bahkan menunda peluncuran beberapa model EV baru hingga semester kedua 2026. “Kami tetap berkomitmen pada elektrifikasi, namun perlu menyesuaikan strategi produksi sesuai kondisi pasar,” ujar juru bicara GM.
Sementara itu, Tesla menjadi satu-satunya merek besar yang masih mencatat pertumbuhan positif berkat efisiensi rantai pasok dan strategi pemotongan harga agresif. Namun, analis memperingatkan bahwa kompetisi harga jangka panjang dapat menekan margin keuntungan perusahaan.
Penurunan permintaan ini memperlihatkan bahwa transisi energi bersih di AS masih rapuh, sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dan kesiapan infrastruktur publik. Jika tidak diimbangi dengan kebijakan insentif yang berkelanjutan, adopsi kendaraan listrik berisiko melambat setelah dua tahun pertumbuhan eksponensial.






