Manchester United kembali menghadapi sorotan tajam setelah laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa total utang klub mencapai titik tertinggi sejak keluarga Glazer mengambil alih pada 2005. Untuk pertama kalinya, utang bersih Setan Merah menembus angka lebih dari satu miliar dolar, sebagian besar didorong oleh aktivitas pinjaman tambahan yang dilakukan pada bursa transfer musim panas 2025.
Dalam laporan yang dirilis 11 Desember, total kewajiban finansial klub tercatat sebesar 1,73 miliar dolar. Angka itu mencakup utang jangka panjang senilai 289,8 juta dolar serta utang jangka pendek yang sebelumnya berada di angka 433,3 juta dolar. Lonjakan terbesar terjadi pada komponen pinjaman jangka pendek, yang kini mendekati satu miliar dolar setelah Man Utd menarik kredit bergulir tambahan sebesar 140 juta dolar pada kuartal terakhir, sehingga akumulasi pinjaman tipe ini mencapai 359 juta dolar. Seluruh utang jangka pendek tersebut wajib dilunasi dalam satu tahun ke depan.
Sejak keluarga Glazer membeli klub dua dekade lalu, Man Utd memang tidak lepas dari beban utang besar. Tekanan itu semakin meningkat dalam beberapa musim terakhir, terlebih ketika belanja pemain terus dilakukan untuk memperbaiki performa di lapangan. Para rekrutan seperti Bryan Mbeumo, Benjamin Sesko, dan Matheus Cunha menambah ekspektasi, tetapi juga turut menggerakkan kebutuhan finansial klub.
Masuknya INEOS dan miliarder Jim Ratcliffe sebagai pemegang saham minoritas pada Februari lalu membawa angin perubahan. Ratcliffe meluncurkan program efisiensi besar yang mencakup pemangkasan hampir 500 staf. Dampaknya mulai terlihat pada laporan kuartalan terbaru: Man Utd membukukan laba operasional sebesar 17,4 juta dolar, berbalik dari kerugian 9,4 juta dolar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Biaya gaji juga turun 8,2 persen menjadi 96,6 juta dolar, sementara total biaya operasional menyusut 7,1 persen.
Namun, keuntungan operasional tersebut tidak cukup menutupi biaya pembiayaan yang mencapai 28,6 juta dolar. Setelah penyesuaian, Man Utd mencatat kerugian sebelum pajak sebesar 11,2 juta dolar, dibandingkan laba 2,1 juta dolar tahun lalu. Pendapatan klub juga mengalami penurunan 2 persen, khususnya karena absennya kompetisi Eropa musim ini dan berkurangnya jumlah laga kandang dalam periode pelaporan.
CEO Omar Berrada tetap menyampaikan optimisme. Ia menilai bahwa struktur biaya yang lebih ramping akan memberikan fondasi yang lebih sehat bagi klub untuk berkembang dalam jangka panjang. Menurutnya, keputusan sulit yang telah dibuat setahun terakhir adalah langkah perlu untuk memastikan Man Utd bisa terus berinvestasi pada tim pria maupun wanita meskipun tekanan finansial meningkat.
Terlepas dari rekor utang yang mengkhawatirkan, Man Utd menegaskan bahwa mereka tetap berada di jalur untuk mencapai target pendapatan tahun penuh antara 857 hingga 870 juta dolar.






