China resmi memperpanjang kebijakan bebas visa bagi 45 negara, termasuk 32 negara Eropa, sebagai langkah strategis memulihkan pariwisata pasca-pandemi. Kebijakan bebas visa yang diumumkan pada 3 November ini akan diperpanjang hingga 31 Desember 2026, mencakup negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Spanyol.
Kebijakan ini memungkinkan warga dari 45 negara tersebut untuk tinggal di China hingga 30 hari tanpa visa, memudahkan akses ke Tembok Besar dan Shanghai. Perpanjangan kebijakan bebas visa ini merupakan kelanjutan dari uji coba yang dimulai pada 2023 untuk 37 negara, yang kini diperluas cakupannya.
Selain itu, China juga memperluas kebijakan transit bebas visa 240 jam (10 hari) dari 60 pelabuhan menjadi 65 pelabuhan, efektif mulai 5 November. Kebijakan transit ini berlaku untuk 55 negara, termasuk Indonesia, AS, dan Inggris, yang memungkinkan kunjungan singkat tanpa visa untuk bisnis atau pariwisata.
Langkah perpanjangan bebas visa ini, menurut analis, adalah strategi ‘karpet merah’ Beijing untuk memulihkan kepercayaan wisatawan internasional dan investor pasca-isolasi pandemi yang panjang. Kebijakan ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa China serius untuk kembali menjadi pemain utama di panggung pariwisata global, memanfaatkan infrastruktur modern dan budaya kuno sebagai daya tarik utamanya, katanya.
Perpanjangan kebijakan bebas visa ini merupakan bagian dari target Tiongkok yang lebih besar untuk menjadi tujuan perjalanan utama global, menawarkan kombinasi budaya kuno dan kota-kota modern. Aksesibilitas yang lebih mudah ke destinasi wisata utama diharapkan dapat mendorong lebih banyak pengunjung untuk menjelajah China.
Keputusan China membuka lebar pintunya bagi 45 negara ini menjadi pertaruhan besar dalam memulihkan sektor pariwisata yang vital bagi perekonomian nasional. Di tengah ketegangan geopolitik, langkah perpanjangan bebas visa ini membuktikan bahwa China kini lebih memilih pragmatisme ekonomi untuk bangkit dari keterpurukan pasca-pandemi.






