Tarif AS Hantam Laba Produsen Mobil Jepang, Rugi $9,7 Miliar di Semester I 2025

icon berita mobile

- Penulis Berita

Sabtu, 15 November 2025 - 19:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mobil Toyota

Mobil Toyota

Laba bersih gabungan tujuh produsen mobil teratas Jepang anjlok $9,74 miliar (1,5 triliun yen) pada paruh pertama tahun fiskal 2025. Penurunan laba 30 persen year-on-year ini, yang merupakan pertama kalinya sejak pandemi, dipicu oleh dampak brutal tarif impor AS dan penguatan nilai tukar Yen.

Nissan, Mazda, dan Mitsubishi bahkan mencatatkan kerugian bersih periode April-September 2025 akibat tarif AS 27,5% yang baru dikurangi menjadi 15% pada September. Mazda, yang 30 persen penjualannya di AS, menjadi salah satu korban terparah dengan kerugian $630 juta akibat keterlambatan implementasi pengurangan tarif AS.

Kepala Keuangan Mazda Jeffrey H. Guyton menyalahkan lambatnya pengurangan tarif AS yang memicu kerugian pertama perusahaan dalam lima tahun. “Dampak pada kuartal kedua (Juli hingga September 2025) sebesar $ 66,6 juta, cukup untuk menjelaskan kerugiannya,” kata Guyton. Subaru, dengan 80 persen penjualan di AS, juga terpuruk setelah pembayaran tarif $999 juta menghapus laba operasional mereka.

Baca Juga :  BYD Dolphin Catat Rekor Penjualan Global Melampaui Satu Juta Unit

Di tengah kehancuran profitabilitas industri otomotif Jepang, hanya Toyota yang berhasil “melebihi badai” berkat lonjakan penjualan mobil hibrida. Meski Toyota harus membayar pajak tarif impor lebih dari $5,8 miliar, laba bersihnya hanya turun 7 persen, terbaik di antara tujuh produsen, berkat penjualan hibrida yang naik 9 persen dan pemotongan biaya yang agresif.

Keberhasilan Toyota ini, menurut para analis, menunjukkan bahwa strategi hibrida yang selama ini diejek, kini terbukti menjadi ‘pelampung’ paling efektif di tengah perang dagang. Sementara rival Jepangnya berdarah-darah akibat tarif AS, dominasi Toyota di segmen hibrida AS yang permintaannya sangat kuat menjadi bantalan sempurna yang menyelamatkan profitabilitas mereka, katanya.

Namun, tantangan baru kini menghadang di paruh kedua tahun fiskal, yakni krisis pasokan chip dari Nexperia yang berbasis di China. Honda telah terpaksa memangkas produksi HR-V di Meksiko dan AS akibat kekurangan chip Nexperia ini, yang diperkirakan akan memicu kerugian $971 juta bagi Honda.

Baca Juga :  Jepang Diguncang Gempa 6,8 Magnitudo, Peringatan Tsunami Dibatalkan

Industri otomotif Jepang kini terjepit di antara dua perang dagang besar yang tidak mereka mulai, yakni tarif AS dan sengketa chip Nexperia. Keberhasilan Toyota mengandalkan hibrida menjadi anomali, sementara produsen Jepang lainnya kini harus berjuang mempertahankan arus kas di tengah ‘normal baru’ yang dipenuhi tarif dan gangguan rantai pasok.

Berita Terkait

Mobil Listrik di China 2040 Diprediksi Capai 90 Persen Pangsa Pasar
Bocoran Mobil Baru Chery yang Meluncur Sebentar Lagi di Indonesia
Mobil Listrik China Jakarta-Yogya Sekali Ngecas Segera Dijual di RI
Strategi Mobil Listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China: Bertahan dari Gempuran Lokal
Mengenal Perakitan Mobil CKD dan CBU, Apa Bedanya?
Interior BYD Racco EV Resmi Terungkap, Bawa Standar Baru Kei Car
Nissan Gravite Meluncur di India sebagai Mobil Keluarga 7-Seater Terbaru
Varian Baru BMW X3 30 xDrive M Sport Pro Meluncur 16 Februari
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 11:10 WIB

Mobil Listrik di China 2040 Diprediksi Capai 90 Persen Pangsa Pasar

Jumat, 10 April 2026 - 20:17 WIB

Bocoran Mobil Baru Chery yang Meluncur Sebentar Lagi di Indonesia

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:07 WIB

Mobil Listrik China Jakarta-Yogya Sekali Ngecas Segera Dijual di RI

Senin, 23 Maret 2026 - 21:24 WIB

Strategi Mobil Listrik Mercedes-Benz dan Volkswagen di China: Bertahan dari Gempuran Lokal

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:43 WIB

Mengenal Perakitan Mobil CKD dan CBU, Apa Bedanya?

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB