Tesla melaporkan pendapatan kuartal ketiga (Q3) 2024 mencapai rekor $28,1 miliar, melampaui ekspektasi analis berkat penjualan kendaraan listrik tertinggi. Namun, rekor pendapatan Tesla ini dibayangi oleh anjloknya keuntungan akibat lonjakan biaya operasional dan tarif impor baru.
Laba per saham Tesla hanya mencapai $0,50, di bawah perkiraan analis $0,55, dengan margin keuntungan mobil (tidak termasuk kredit emisi) turun menjadi 15,4 persen. Pendapatan dari kredit emisi yang sebelumnya vital, kini turun drastis menjadi $417 juta dari $739 juta tahun sebelumnya.
CFO Vaibhav Taneja mengatakan biaya operasional melonjak 50 persen, didorong oleh investasi besar-besaran pada AI, robot Optimus, dan perangkat lunak self-driving. Kebijakan tarif baru pemerintahan Donald Trump, menurutnya, turut membebani biaya komponen impor hingga $400 juta pada kuartal ini.
Investasi besar Tesla di sektor AI dan robotika ini, menurut analis, menunjukkan pergeseran fokus perusahaan dari sekadar produsen mobil menjadi raksasa teknologi masa depan. Strategi Elon Musk ini mengorbankan keuntungan jangka pendek demi dominasi di sektor taksi robot dan Optimus, sebuah pertaruhan besar yang membuat investor terbelah, katanya.
Untuk menjaga permintaan di tengah hilangnya insentif pajak, Tesla terpaksa meluncurkan Model Y dan Model 3 versi “Standard” yang lebih murah dengan memotong fitur. CEO Elon Musk tetap menargetkan produksi massal Cybercab, Semi, dan robot Optimus dimulai pada akhir 2026.
Shawn Campbell dari Camelthorn Investments menilai laporan pendapatan Tesla ini tidak mengubah pandangan investor, memuaskan penggemar sekaligus menguatkan keraguan para skeptis. Laporan Q3 2024 ini menggarisbawahi tantangan berat Tesla dalam menyeimbangkan inovasi AI dan realitas pasar otomotif yang semakin kompetitif.






