Kualifikasi Piala Asia 2027 Grup F diwarnai skenario langka dan ancaman hukuman di akhir babak final antara Vietnam dan Malaysia. Pertandingan penentu di Vietnam pada 31 Maret 2026 ini berpotensi berakhir dengan adu penalti untuk menentukan juara grup.
Saat ini Malaysia memimpin dengan 15 poin (gol +14), unggul tipis dari Vietnam (12 poin, +6). Jika Vietnam mampu menang dengan selisih tepat empat gol (misalnya 4-0 atau 5-1), kedua tim akan memiliki poin dan selisih gol yang identik, sehingga regulasi FIFA mewajibkan adu tendangan penalti.
Namun, hasil pertandingan di lapangan bisa jadi tidak berarti akibat skandal tujuh pemain naturalisasi palsu yang menjerat Malaysia. Jika hukuman dari Pengadilan Olahraga (CAS) dikuatkan, Malaysia akan dinyatakan kalah 0-3 dalam dua pertandingan kualifikasi yang menggunakan pemain ilegal tersebut.
Skenario hukuman 0-3 ini, menurut pengamat sepak bola, akan secara otomatis membalikkan klasemen Grup F tanpa perlu laga final. Poin Malaysia akan anjlok ke 9, sementara Vietnam naik ke puncak dengan 15 poin, memastikan tiket Piala Asia 2027 menjadi milik Vietnam. Kasus ini membuktikan bahwa kelalaian administrasi federasi dapat berakibat fatal, menghapus hasil kerja keras tim di lapangan, katanya.
Laga Vietnam vs Malaysia ini menjadi salah satu dari empat pertandingan penentu terakhir untuk memperebutkan sisa tiket ke Piala Asia 2027. Sebanyak 20 tim, termasuk Indonesia dan Singapura dari Asia Tenggara, telah lebih dulu memastikan tempat, bergabung dengan tuan rumah Arab Saudi.
Drama kualifikasi Piala Asia 2027 Grup F ini menunjukkan bahwa nasib Vietnam tidak hanya bergantung pada performa mereka di lapangan, tetapi juga pada keputusan hukum di luar lapangan. Kepastian status hukum Malaysia di CAS akan menjadi faktor penentu apakah Vietnam harus berjuang hingga adu penalti atau lolos otomatis ke final di Arab Saudi.






