Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan diplomatik setelah menyatakan bahwa ia akan “memecat Spanyol dari NATO” jika negara tersebut tidak memenuhi kewajiban pendanaan pertahanan.
Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah wawancara televisi yang menyoroti kebijakan luar negeri Trump jika kembali berkuasa.
Trump menuding beberapa negara anggota NATO, termasuk Spanyol, tidak berkontribusi cukup besar terhadap anggaran pertahanan aliansi, dan menegaskan bahwa AS tidak akan terus “menanggung beban” bagi sekutu yang dianggap pasif.
“Jika mereka tidak membayar bagian mereka, maka mereka keluar. Amerika tidak akan terus melindungi negara yang tidak mau membayar perlindungan itu,” ujar Trump dengan nada tegas.
Ancaman ini segera memicu reaksi keras dari berbagai kalangan diplomatik Eropa.
Beberapa analis menilai pernyataan tersebut menunjukkan pendekatan transaksional Trump terhadap keamanan global, di mana komitmen strategis jangka panjang sering kali dipandang dari sisi keuntungan ekonomi jangka pendek.
Sementara pihak NATO di Brussels menolak berkomentar langsung, sumber internal menyebut bahwa Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg telah menghubungi perwakilan Spanyol untuk memastikan stabilitas hubungan di tengah situasi sensitif ini.
Spanyol sendiri merupakan anggota aktif NATO sejak 1982 dan saat ini menempatkan pasukan di berbagai misi aliansi, termasuk di Eropa Timur.
Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa negaranya tetap berkomitmen terhadap kerja sama pertahanan bersama. “Spanyol adalah bagian penting dari keamanan kolektif Eropa dan kami akan terus mematuhi kewajiban kami,” demikian pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Spanyol.
Pernyataan Trump datang menjelang pemilihan presiden AS 2026, di mana isu kebijakan luar negeri dan posisi Amerika di NATO kembali menjadi bahan perdebatan utama.
Selama masa kepresidenannya (2017–2021), Trump kerap mengkritik anggota NATO karena dianggap tidak menanggung biaya pertahanan sesuai kesepakatan 2% dari PDB.
Meskipun ancamannya terhadap Spanyol dinilai berlebihan oleh sebagian pengamat, langkah tersebut memperlihatkan konsistensi retorika Trump yang ingin menempatkan kepentingan domestik AS di atas kerja sama multilateral.
Para diplomat Eropa kini menilai, jika Trump benar-benar kembali ke Gedung Putih, hubungan transatlantik dapat menghadapi periode ketidakpastian baru yang berpotensi menguji kekompakan NATO.






