Para ilmuwan menemukan bahwa Zona Anomali Atlantik Selatan (SAA) wilayah di mana medan magnet Bumi melemah secara tidak biasa terus berkembang pesat sejak satu dekade terakhir. Fenomena ini kini menjadi perhatian dunia sains karena berpotensi memengaruhi satelit dan misi ruang angkasa yang melintas di atasnya.
Menurut laporan Phys.org (13 Oktober 2025), tim peneliti dari Universitas Teknik Denmark menggunakan data selama 11 tahun dari konstelasi satelit Swarm milik European Space Agency (ESA). Hasil analisis menunjukkan, sejak 2014, luas area SAA meningkat sekitar 25 persen setiap tahun, dengan pergeseran rata-rata 22,5 kilometer ke arah barat. Perubahan tersebut kini mencakup wilayah hampir setengah ukuran Eropa.
SAA pertama kali teridentifikasi pada abad ke-19 di tenggara Amerika Selatan sebagai area dengan medan magnet lemah. Kini, wilayah itu menjadi titik rawan bagi satelit yang melintas karena paparan radiasi tinggi dapat mengganggu perangkat keras, bahkan memicu kerusakan sistem penting. Data terbaru Swarm juga memperlihatkan bahwa sejak 2020, pelemahan medan magnet di bagian selatan Afrika terjadi lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Pemimpin riset, Prof. Chris Finlay, menjelaskan bahwa perubahan ini berkaitan dengan interaksi kompleks di batas antara inti luar Bumi yang cair dan lapisan batuan padat di atasnya. Biasanya, garis medan magnet keluar dari inti di belahan selatan, tetapi di bawah area SAA terdapat pola aliran yang berbalik arah ke inti, menciptakan gangguan pada kekuatan magnet di kawasan tersebut. “Salah satu area anomali kini bergerak ke barat melintasi Afrika dan mempercepat pelemahan di wilayah itu,” jelas Finlay.
Misi Swarm, yang diluncurkan pada 22 November 2013, terdiri dari tiga satelit identik yang mampu mengukur sinyal magnetik dengan presisi tinggi dari inti Bumi, kerak, lautan, hingga ionosfer. Data yang dihasilkan membantu ilmuwan memahami penyebab medan magnet melemah di satu tempat dan menguat di tempat lain — pengetahuan yang penting untuk sistem navigasi, komunikasi, dan mitigasi risiko cuaca luar angkasa.
Menurut NASA, SAA sering disebut sebagai “sarang ayam ruang angkasa” — zona di mana satelit seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menghadapi gangguan radiasi tinggi ketika melintas di orbit rendah. Kondisi ini dapat memperpendek umur perangkat, memicu malfungsi sistem elektronik, atau membuat sensor sementara dinonaktifkan.
Temuan terbaru ini menjadi peringatan bahwa medan magnet Bumi bersifat dinamis dan terus berubah. Memahami pola pergerakan SAA sangat penting agar industri antariksa dapat menyesuaikan desain dan perlindungan teknologi mereka di masa depan.






