Ratusan warga Kelurahan Tangki, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat masih merasakan kepanikan setelah kebakaran hebat melanda permukiman padat mereka pada Minggu (28/9). Api yang cepat membesar membuat rumah-rumah warga tak bisa diselamatkan, meninggalkan kerugian besar dan ribuan jiwa terdampak.
Suasana pengungsian kini menjadi tempat sementara bagi sebagian korban. Mereka tersebar di Masjid Al-Muhajirin, kantor kelurahan, hingga rumah tetangga. Dari catatan pemerintah, total 316 kepala keluarga atau 1.256 jiwa terkena dampak langsung musibah ini.
Meski tidak ada korban jiwa, enam orang sempat mengalami sesak napas akibat asap tebal. Mereka berhasil ditangani oleh tim medis yang siaga di lokasi, termasuk dari PMI dan Unit AGD Dinas Kesehatan DKI.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang turun langsung ke lokasi kebakaran pada Selasa (30/9), menegaskan komitmen pemerintah untuk hadir dalam proses pemulihan.
“Pemerintah Jakarta harus hadir untuk membantu penanganan rumah-rumah yang sebagian terbakar,” ujar Pramono.
Ia menekankan bahwa sebagian besar rumah yang terbakar memiliki status kepemilikan jelas, baik Hak Guna Bangunan (HGB) maupun Sertifikat Hak Milik (SHM). Status tersebut diperoleh melalui program Prona (Proyek Operasi Nasional Agraria) pada 2018.
“Rumah di sini sebagian adalah HGB, SHM, yang dulu mereka ikut program Prona pada tahun 2018. Saya akan mendalami ini,” jelasnya.
Pramono memastikan arsip kepemilikan rumah yang terdampak masih tersimpan di pemerintah, sehingga warga bisa mendapat pendampingan dalam mengurus ulang dokumen yang hilang atau rusak.
“Jadi karena semua surat ini kan Pemerintah Jakarta pasti punya file-nya. Karena ini programnya program Prona dulu, baik itu HGB maupun SHM-nya, pasti nanti saya minta untuk mereka didampingi untuk surat-menyuratnya. Ada semua pasti,” kata Pramono.
Sambil meninjau, Gubernur juga melihat langsung kondisi fasilitas umum dan titik terparah kebakaran. Ia turut menyerahkan bantuan secara simbolis bagi warga yang kini masih tinggal di pengungsian.
Kebakaran ini tercatat menghanguskan area seluas 8.406 meter persegi. Api diduga dipicu korsleting listrik dari sebuah kipas angin, kemudian cepat menjalar karena tiupan angin dan material bangunan yang sebagian besar terbuat dari plastik serta kayu.
Sebanyak 27 mobil pemadam dan 135 personel dikerahkan. Petugas berjibaku hampir 12 jam hingga api benar-benar padam pada pukul 22.50 WIB. Selain menyelamatkan warga, mereka juga berhasil mengevakuasi 12 ekor kucing dari lokasi.
Pramono tak lupa memberi apresiasi atas kerja keras tim pemadam. Ia juga menyinggung pentingnya program satu RT satu Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sebagai langkah pencegahan, meski dalam kasus kali ini kondisi di lapangan membuat api sulit dikendalikan sejak awal.
Ia berharap warga tetap bertahan dengan semangat dan gotong royong. Pemerintah, lanjutnya, akan terus berkoordinasi soal relokasi maupun rencana pembangunan kembali rumah yang hancur. Namun, ia memahami bila mayoritas warga ingin tetap tinggal di lokasi karena ikatan emosional dan status kepemilikan tanah yang sah.
“Alhamdulillah kalau melihat apa yang terjadi, tidak ada korban. Ada enam orang yang pada waktu itu mengalami sesak napas, tetapi bisa tertangani dengan baik,” ungkap Pramono.
Hingga kini, distribusi bantuan darurat terus dilakukan. Logistik, kebutuhan balita, hingga dukungan psikososial menjadi prioritas agar penyintas bisa melewati masa sulit ini.






