Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banyuwangi–Magelang menerapkan konsep zero waste dalam operasionalnya, memastikan efisiensi dan kepedulian lingkungan. Bahan pangan diterima dalam kondisi siap masak, sesuai gramasi dan potongan, mempercepat produksi tanpa sisa.
“Kami memastikan setiap bahan yang masuk ke dapur sudah sesuai gramasi dan bentuk potongan yang siap masak,” ujar Hadi Pranoto, Ketua Yayasan Bina Bangsa, Penanggung Jawab SPPG. Keberhasilan SPPG yang melayani 3.542 penerima manfaat ini juga didukung sistem digitalisasi.
Setiap gastronom food pan dilengkapi barcode untuk pelacakan real-time bahan, berat, kondisi, dan jumlahnya. “Teknologi ini membuat pengawasan lebih transparan dan akurat,” jelas Hadi Pranoto.
Fasilitas chiller dan freezer besar dengan suhu presisi menjaga kesegaran bahan, sementara sisa makanan diolah alat khusus. Sistem pengolahan limbah ini, menurut Hadi, adalah komitmen SPPG Banyuwangi-Magelang dalam menjaga siklus pangan berkelanjutan dari hulu ke hilir, memastikan tidak ada residu berbahaya yang mencemari lingkungan sekitar fasilitas produksi, katanya.
Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati, mengapresiasi inovasi ini sebagai standar baru tata kelola dapur bergizi. “SPPG Banyuwangi–Magelang bukan hanya dapur, tetapi sistem yang berpikir jauh ke depan,” ungkap Hida di Magelang, Sabtu (25/10). Ia menilai ekosistem inovatif SPPG ini harus diperluas untuk menekan food waste nasional.
Dengan sertifikasi SLHS dan IKL, SPPG Banyuwangi-Magelang menjadi contoh nyata efisiensi, inovasi, dan tanggung jawab lingkungan dalam penyediaan pangan bergizi. Model zero waste ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi dapat berjalan selaras dengan kelestarian alam.






