Revolusi mobil terbang (eVTOL) kini memasuki fase komersialisasi, ditandai langkah Xpeng memulai produksi massal dan Toyota memamerkan Joby S4 di Japan Mobility Show 2025. Para raksasa otomotif ini berebut “kue” pasar mobil terbang yang diprediksi Precedence Research mencapai $28,9 miliar pada 2035.
Pasar mobil terbang global kini menjadi magnet investasi baru, dengan laporan IMARC Group menyebut nilainya sudah $13,3 miliar tahun lalu. Kehadiran Joby Aviation S4 di stan Toyota pada JMS 2025 menegaskan keseriusan pabrikan tradisional Jepang itu dalam menggarap segmen taksi terbang perkotaan.
Toyota tidak sendiri, Xpeng di China juga mengumumkan pengiriman pertama mobil terbang modular “Land Carrier” yang siap diproduksi massal. Pasar eVTOL ini juga diramaikan pemain besar lain seperti Archer Aviation Midnight dan Lilium Jet yang mengembangkan teknologi baling-baling unik untuk mobilitas udara.
Keterlibatan Toyota dan Xpeng dalam industri mobil terbang ini, menurut pengamat, menandai pergeseran fundamental dari sekadar konsep fiksi ilmiah menjadi realitas industri baru. Kehadiran Vingroup di Vietnam yang membentuk Vinspace JSC untuk produksi pesawat juga menunjukkan bahwa perlombaan menguasai langit perkotaan kini menjadi agenda strategis di Asia, katanya.
Meski revolusi mobil terbang (eVTOL) tampak menjanjikan, tantangan terbesar masih terletak pada jangkauan baterai, kecepatan pengisian daya, dan jaminan keselamatan. Risiko tabrakan di langit perkotaan yang padat serta ketinggian terbang yang rendah menuntut pengembangan teknologi otonom (self-driving) yang sangat canggih dan teruji.
Masa depan mobil terbang kini berada di persimpangan antara optimisme pasar miliaran dolar dan realitas regulasi keselamatan yang ketat. Keberhasilan komersialisasi taksi terbang perkotaan ini akan sangat bergantung pada kemampuan produsen meyakinkan publik bahwa teknologi eVTOL mereka benar-benar aman digunakan.






