Honda Motor memangkas proyeksi laba setahun penuh sebesar 21 persen, menghadapi pukulan berat dari tiga arah sekaligus, Sabtu (8/11/2025). Biaya transisi kendaraan listrik (EV) yang membengkak, anjloknya penjualan di Asia akibat gempuran merek China, serta krisis chip Nexperia menjadi penyebab utama revisi target profit tahunan tersebut.
Produsen mobil terbesar kedua di Jepang itu merevisi turun perkiraan laba tahun fiskal menjadi 550 miliar yen dari 700 miliar yen sebelumnya. Bisnis otomotif Honda mencatat kerugian di paruh pertama tahun fiskal akibat biaya satu kali terkait EV senilai 224 miliar yen, memaksa perusahaan merevisi turun target penjualan EV globalnya.
Di pasar Asia, target penjualan Honda dipangkas lebih dari 10 persen menjadi 925.000 unit akibat persaingan sengit, sementara laba operasi sepeda motor juga turun 25 persen akibat penurunan tajam di Vietnam. Wakil Presiden Eksekutif Honda Noriya Kaihara mengatakan pendaratan masif merek China memaksa Honda memberi diskon besar. “Kami menyadari perlunya penilaian mendasar dari pasar Asia. Namun, dari tahun fiskal hingga tahun depan, tidak ada model baru yang terkenal akan diluncurkan,” kata Kaihara.
Pengakuan Kaihara ini menyoroti dilema akut yang dihadapi Honda, yang kini terjepit dari dua sisi di pasar Asia, terutama Vietnam dan China. Kegagalan meluncurkan model baru yang kompetitif di tengah perang harga brutal yang dilancarkan pabrikan China membuat strategi hibrida Honda kini terlihat lamban dan berisiko kehilangan momentum pasarnya, katanya.
Pukulan ketiga datang dari krisis chip Nexperia yang memicu kerugian 150 miliar yen dan menghentikan produksi di pabrik Meksiko (HR-V) pekan lalu. Kaihara mengakui gangguan ini terjadi akibat ketergantungan Honda pada pemasok tunggal untuk beberapa komponen vital, yang kini terdampak perang dagang Belanda-China yang memanas.
Kesulitan Honda di penghujung tahun 2025 ini menjadi bukti nyata kerapuhan rantai pasok otomotif Jepang yang kini menjadi korban kolateral perang dagang global. Terjepitnya Honda antara biaya EV yang mahal, gempuran merek China di Asia, dan krisis chip Eropa, memaksa raksasa Jepang ini masuk dalam mode bertahan di tengah persaingan industri yang paling menantang dalam sejarah mereka.






