Lembaga Sensor Film (LSF) kini secara masif mendorong gerakan nasional “Budaya Sensor Mandiri” untuk membangun literasi tontonan yang sehat di masyarakat. Ketua LSF Naswardi menegaskan pergeseran fokus ini penting agar masyarakat terbiasa memilah tontonan sesuai klasifikasi usia dan nilai budaya bangsa.
Ajakan ini disampaikan dalam acara nonton bareng (nobar) film nasional di XXI Margo City, Depok, Kamis (13/11/2025), yang merupakan bagian dari sosialisasi LSF di 30 kota. Naswardi menyebut LSF terus berupaya meningkatkan kualitas literasi dan mengajak publik menjadi “Sahabat Sensor Mandiri” untuk saling mengingatkan di lingkungannya. “Kami terus berupaya meningkatkan kualitas literasi,” ujarnya.
Naswardi menegaskan peran LSF kini telah bertransformasi total dari sekadar lembaga pemotong adegan menjadi fasilitator literasi publik, sesuai amanat undang-undang. “Melalui Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009, kami telah bertranformasi menjadi jembatan antara layar dan penonton,” ujarnya.
Pergeseran paradigma LSF ini, menurut Naswardi, merupakan respons strategis atas ketidakmampuan sensor konvensional dalam membendung arus tontonan di era digital yang tak terbatas. Dengan menyerahkan tanggung jawab pemilahan film kepada individu, LSF kini memposisikan penonton sebagai benteng pertahanan terakhir moralitas, sebuah langkah yang menuntut kedewasaan dan kesadaran kritis dari setiap keluarga di Indonesia, katanya.
Dukungan atas gerakan “Budaya Sensor Mandiri” ini turut disuarakan aktor Reza Rahadian, yang filmnya diputar dalam nobar tersebut. Reza berharap penonton film Indonesia kini lebih cerdas dan memiliki kesadaran internal untuk membedakan tontonan sesuai klasifikasi usianya. “Penonton juga harus membangun kesadaran itu,” ujar sutradara film “Pangku” itu.
Naswardi berharap kesadaran kolektif ini akan menjadikan sensor mandiri sebagai bagian dari gaya hidup baru penonton film di Indonesia. Keberhasilan program literasi LSF ini menjadi pertaruhan besar, di mana tanggung jawab moral atas dampak tontonan kini tidak lagi hanya di pundak negara, tetapi di tangan setiap individu penikmat film.






