Laba bersih gabungan tujuh produsen mobil teratas Jepang anjlok $9,74 miliar (1,5 triliun yen) pada paruh pertama tahun fiskal 2025. Penurunan laba 30 persen year-on-year ini, yang merupakan pertama kalinya sejak pandemi, dipicu oleh dampak brutal tarif impor AS dan penguatan nilai tukar Yen.
Nissan, Mazda, dan Mitsubishi bahkan mencatatkan kerugian bersih periode April-September 2025 akibat tarif AS 27,5% yang baru dikurangi menjadi 15% pada September. Mazda, yang 30 persen penjualannya di AS, menjadi salah satu korban terparah dengan kerugian $630 juta akibat keterlambatan implementasi pengurangan tarif AS.
Kepala Keuangan Mazda Jeffrey H. Guyton menyalahkan lambatnya pengurangan tarif AS yang memicu kerugian pertama perusahaan dalam lima tahun. “Dampak pada kuartal kedua (Juli hingga September 2025) sebesar $ 66,6 juta, cukup untuk menjelaskan kerugiannya,” kata Guyton. Subaru, dengan 80 persen penjualan di AS, juga terpuruk setelah pembayaran tarif $999 juta menghapus laba operasional mereka.
Di tengah kehancuran profitabilitas industri otomotif Jepang, hanya Toyota yang berhasil “melebihi badai” berkat lonjakan penjualan mobil hibrida. Meski Toyota harus membayar pajak tarif impor lebih dari $5,8 miliar, laba bersihnya hanya turun 7 persen, terbaik di antara tujuh produsen, berkat penjualan hibrida yang naik 9 persen dan pemotongan biaya yang agresif.
Keberhasilan Toyota ini, menurut para analis, menunjukkan bahwa strategi hibrida yang selama ini diejek, kini terbukti menjadi ‘pelampung’ paling efektif di tengah perang dagang. Sementara rival Jepangnya berdarah-darah akibat tarif AS, dominasi Toyota di segmen hibrida AS yang permintaannya sangat kuat menjadi bantalan sempurna yang menyelamatkan profitabilitas mereka, katanya.
Namun, tantangan baru kini menghadang di paruh kedua tahun fiskal, yakni krisis pasokan chip dari Nexperia yang berbasis di China. Honda telah terpaksa memangkas produksi HR-V di Meksiko dan AS akibat kekurangan chip Nexperia ini, yang diperkirakan akan memicu kerugian $971 juta bagi Honda.
Industri otomotif Jepang kini terjepit di antara dua perang dagang besar yang tidak mereka mulai, yakni tarif AS dan sengketa chip Nexperia. Keberhasilan Toyota mengandalkan hibrida menjadi anomali, sementara produsen Jepang lainnya kini harus berjuang mempertahankan arus kas di tengah ‘normal baru’ yang dipenuhi tarif dan gangguan rantai pasok.






