Tesla resmi meluncurkan Model 3 Standard, varian termurah dari sedan listrik populernya, di pasar Eropa. Langkah ini dilakukan untuk menahan penurunan penjualan yang tajam dan menghadapi tekanan kompetitif yang semakin kuat dari produsen mobil listrik China maupun Eropa.
Menurut laporan Reuters pada Minggu (7/12/2025), Tesla menurunkan harga awal Model 3 Standard sekitar 3.000 euro, menjadikannya dibanderol kurang dari 37.000 euro. Meskipun lebih murah, jangkauan dan performanya hampir sama dengan versi sebelumnya, menjadikan Model 3 Standard sebagai EV Tesla dengan harga paling terjangkau di Eropa.
Model 3 Standard memiliki jarak tempuh sekitar 534 km, hanya sedikit di bawah versi sebelumnya yang mencapai 554 km. Di Amerika Serikat, model ini telah dipasarkan sejak Oktober dengan harga 36.990 dolar dan menjadi bagian dari strategi Tesla meluncurkan varian “Standard” yang lebih hemat biaya, termasuk pada Model Y.
Untuk mencapai harga yang lebih rendah, Tesla memangkas sejumlah fitur interior. Model 3 Standard tidak lagi dilengkapi ambient light, layar sentuh belakang, kursi belakang berpemanas, maupun ventilasi kursi. Penyesuaian roda kemudi menggunakan mekanisme manual, kaca spion tidak lagi memiliki fitur auto-dimming, sistem audio dipangkas menjadi tujuh speaker, serta material kursi diganti menjadi kain. Beberapa bagian dashboard juga disederhanakan untuk menekan biaya produksi.
Selain meluncurkan varian murah, Tesla juga melakukan restrukturisasi biaya produksi untuk Model 3 dan Model Y. Kapasitas baterai diturunkan sekitar 10 persen, roda diganti menjadi ukuran yang lebih kecil, suspensi menggunakan tipe pasif, motor listrik dialihkan ke versi berdaya lebih rendah, dan interior mengalami simplifikasi. Langkah ini memangkas biaya dari puluhan hingga ribuan dolar per unit.
Harga Model 3 Standard kini tercatat 37.970 euro di Jerman, 330.056 crowns di Norwegia, 44.990 crowns di Swedia, serta 36.990 euro di Prancis. Namun untuk pasar Prancis, model ini tidak memenuhi syarat insentif EV senilai 4.000 euro karena statusnya sebagai mobil impor dari Shanghai, berbeda dengan Model Y yang dirakit di Jerman.
Banyak analis menilai strategi harga rendah Tesla dapat kembali mengganggu pasar, seperti yang terjadi pada 2023 ketika pemangkasan harga besar-besaran memicu penurunan harga di seluruh segmen EV Eropa. Pada saat itu, banyak produsen harus menyesuaikan harga atau merilis model lebih murah untuk bertahan.
Meski Model 3 tetap menjadi sedan listrik terlaris dengan 64.785 unit terjual sepanjang sepuluh bulan pertama tahun ini, penjualannya di Eropa turun 29 persen. Secara keseluruhan, penjualan Tesla di kawasan ini turun sekitar 30 persen. Penurunan ini dinilai dipengaruhi oleh portofolio produk yang menua, gelombang pesaing baru, serta kontroversi publik terkait komentar CEO Elon Musk terhadap tokoh politik di Jerman, Inggris, dan keterlibatannya dalam politik AS.
Tesla kini berada dalam periode sulit di Eropa, dan waktu akan menentukan apakah strategi “varian murah” ini cukup efektif untuk memulihkan daya saing di tengah melambatnya pasar mobil listrik global.






