Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memutuskan untuk mempercepat proses merger badan usaha milik negara (BUMN). Konsolidasi yang semula ditargetkan rampung pada 2027 kini dipercepat dan ditargetkan selesai pada 2026.
Senior Director Business Performance & Assets Optimization Danantara Indonesia, Bhimo Aryanto, menjelaskan percepatan ini dilakukan karena keterbatasan waktu dan tuntutan efisiensi yang semakin mendesak. Menurutnya, seluruh BUMN kini diminta bergerak lebih cepat, sementara Danantara melakukan pengawasan manajemen secara intensif setiap hari.
Danantara berencana melakukan konsolidasi terhadap total 1.067 perusahaan BUMN beserta entitas turunannya. Dari jumlah tersebut, akan disederhanakan menjadi sekitar 250 perusahaan melalui proses efisiensi dan penggabungan bisnis. Meski demikian, Bhimo menegaskan bahwa percepatan merger ini tidak akan diiringi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ia menekankan bahwa efisiensi akan dilakukan melalui berbagai skema, termasuk realokasi sumber daya manusia antarperusahaan. Opsi seperti golden handshake tetap diperhitungkan secara matang agar tetap memberikan tingkat pengembalian investasi (IRR) yang sehat, tanpa harus melakukan PHK massal.
Selain penataan struktur perusahaan, restrukturisasi juga akan menyasar efisiensi biaya operasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pengurangan jumlah direksi dan komisaris di perusahaan hasil merger. Dengan struktur yang lebih ramping, Danantara berharap BUMN dapat menjadi lebih kompetitif dan adaptif menghadapi tantangan bisnis ke depan.
Sejumlah BUMN telah masuk dalam rencana penggabungan. Di sektor transportasi dan logistik, Pelindo, Pelni, dan ASDP akan dikonsolidasikan. Sementara di sektor perkeretaapian, PT KAI akan digabung dengan PT INKA. Di bidang perkebunan dan kehutanan, PTPN akan digabung dengan Perhutani. Adapun holding rumah sakit BUMN akan dikonsolidasikan dengan Bio Farma.
Khusus untuk BUMN Karya, tujuh perusahaan akan disederhanakan menjadi tiga entitas. PT Waskita Karya Tbk akan digabung dengan PT Hutama Karya, PT Nindya Karya akan disatukan dengan PT Brantas Abipraya dan PT Adhi Karya Tbk, sementara PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) akan digabung dengan PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP).
Dengan percepatan merger ini, Danantara menargetkan terciptanya BUMN yang lebih efisien, sehat secara finansial, dan memiliki daya saing yang lebih kuat, tanpa mengorbankan tenaga kerja yang ada.






