Inflasi Melonjak, Tekanan Ekonomi Dorong Warga Iran Turun ke Jalan

icon berita mobile

- Penulis Berita

Kamis, 1 Januari 2026 - 20:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Iran melakukan protes di jalan-jalan Teheran pada 29 Desember.

Warga Iran melakukan protes di jalan-jalan Teheran pada 29 Desember.

Krisis ekonomi Iran memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Inflasi tinggi yang disertai melemahnya nilai tukar rial telah menggerus daya beli masyarakat, memicu gelombang protes di sejumlah kota, termasuk ibu kota Teheran.

Pada 29 Desember, ratusan warga turun ke jalan di kawasan pasar pusat Teheran. Mereka menuntut pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan nilai tukar dan menyusun strategi ekonomi yang jelas. Aksi serupa juga terjadi di beberapa kota lain.

Rekaman yang dirilis kantor berita lokal memperlihatkan kerumunan massa memenuhi jalan-jalan utama di area perdagangan yang biasanya ramai. Aparat keamanan dilaporkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran di Teheran dan dua kota lainnya.

Nilai mata uang rial terus tertekan di pasar bebas. Pada akhir Desember, kurs dolar AS menembus sekitar 1,39 juta rial, sementara euro mencapai 1,64 juta rial. Fluktuasi tajam ini membuat aktivitas impor dan perdagangan terganggu karena pelaku usaha memilih menunda transaksi demi menghindari kerugian.

Baca Juga :  Crane Proyek Konstruksi di Thailand Runtuh Lagi Dua Pekerja Tewas di Bangkok

Situasi diperparah oleh tingkat inflasi yang dilaporkan mencapai lebih dari 42 persen. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan jasa berlangsung cepat, sementara pendapatan masyarakat tidak mampu mengimbangi lonjakan biaya hidup.

Di tengah tekanan tersebut, Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad Reza Farzin mengundurkan diri pada 29 Desember dan kini menunggu persetujuan resmi. Mantan Menteri Ekonomi Abdolnaser Hemmati disebut-sebut sebagai kandidat kuat penggantinya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka mengakui beratnya krisis ekonomi saat memaparkan rancangan anggaran negara 2026 di parlemen sehari sebelumnya. Ia menyoroti keterbatasan fiskal pemerintah di tengah tuntutan kenaikan upah dan meningkatnya beban belanja negara.

Menurut Pezeshkian, kondisi saat ini merupakan akumulasi dari kebijakan pemerintah, parlemen, serta pemerintahan sebelumnya. Pendapatan negara yang melemah membuat ruang gerak pemerintah semakin sempit.

Baca Juga :  Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India

Para analis menilai tekanan ekonomi Iran tidak terlepas dari kombinasi faktor internal dan eksternal. Lemahnya tata kelola ekonomi, kebijakan ekonomi tertutup, sanksi Amerika Serikat yang membatasi ekspor minyak, serta ketegangan geopolitik dengan Israel dan AS turut memperburuk keadaan.

Amir Hossein Mahdavi, peneliti ekonomi Iran dari University of Connecticut, menyebut Teheran memiliki pilihan yang sangat terbatas untuk keluar dari krisis dalam waktu singkat. Normalisasi hubungan dengan AS atau pemangkasan besar-besaran belanja pemerintah dinilai sulit direalisasikan secara politik.

Rancangan anggaran 2026 mencerminkan dilema tersebut. Dengan pendapatan minyak yang menurun, pemerintah terpaksa meningkatkan ketergantungan pada pajak. Namun, parlemen Iran dilaporkan menolak rancangan anggaran itu, menambah ketidakpastian kebijakan.

Baca Juga :  Houthi Hukum Mati 17 Warga Yaman, Dituduh Mata-Mata Inggris dan Mossad

Di tingkat masyarakat, dampak krisis terasa langsung. Omid, 42 tahun, seorang manajer penjualan di Teheran, mengungkapkan pendapatannya merosot drastis dalam dua bulan terakhir akibat pelemahan rial. Biaya medis orang tuanya tak lagi terjangkau, sementara kendaraan pribadinya rusak tanpa dana untuk memperbaiki.

Seorang bankir bernama Mariam, 41 tahun, mengatakan penghasilannya kini hanya cukup menutupi sekitar dua pertiga kebutuhan hidup bulanan. Aktivitas sosial dan konsumsi makanan bergizi terpaksa dikurangi demi bertahan hingga akhir bulan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis ekonomi Iran bukan sekadar persoalan makro, melainkan telah menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Tanpa kebijakan tegas dan stabilitas politik, tekanan ekonomi dikhawatirkan akan terus memicu ketidakpuasan publik di waktu mendatang.

Berita Terkait

Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India
Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang
Kanada Berupaya Bergabung dalam Proyek Jet Tempur Global Combat Air Programme
Akhir Pelarian Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori
Veda Ega Pratama, Media Italia Sebut Ia Berbeda dari Pembalap Asia Lainnya
IPO GIFT City Pertama di India Resmi Dibuka 16 Maret, Era Baru Finansial
Hizbullah Serang Israel, Eskalasi Ketegangan di Perbatasan Lebanon
AI Mengubah Lapangan Kerja di Rumania, Transformasi dan Masa Depan
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 15:01 WIB

Wali Kota New York Desak Raja Charles III Kembalikan Berlian Koh-i-Noor ke India

Minggu, 12 April 2026 - 11:05 WIB

Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang

Jumat, 10 April 2026 - 20:12 WIB

Kanada Berupaya Bergabung dalam Proyek Jet Tempur Global Combat Air Programme

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:03 WIB

Akhir Pelarian Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori

Senin, 23 Maret 2026 - 21:15 WIB

Veda Ega Pratama, Media Italia Sebut Ia Berbeda dari Pembalap Asia Lainnya

Berita Terbaru

Saham bmri dividen murah

Nasional

BMRI Bagi Dividen Murah, Potensi Yield 8,5% di Mei 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:40 WIB