Hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Kanada kini berada di bawah bayang-bayang ketegangan baru. Pemerintah Amerika Serikat secara terbuka melayangkan peringatan keras kepada sekutu utara mereka, Kanada, terkait keputusan Ottawa yang mulai membuka pintu bagi masuknya kendaraan listrik (EV) asal China. Washington menilai langkah tersebut sebagai celah keamanan dan ekonomi yang dapat disesali oleh Kanada di masa depan, mengingat besarnya ambisi Beijing untuk mendominasi pasar Amerika Utara.
Pada tahun 2024, Kanada sebenarnya sempat mengikuti jejak Amerika Serikat dengan memberlakukan tarif impor sebesar 100% pada mobil listrik buatan China. Namun, situasi berubah secara dinamis pada awal tahun 2026. Keputusan terbaru Kanada untuk mengizinkan kuota impor hingga 49.000 unit kendaraan listrik China telah memicu alarm di Gedung Putih.
Para pejabat di Washington khawatir bahwa Beijing akan memanfaatkan celah ini sebagai “pijakan strategis” untuk merangsek masuk ke pasar Amerika Utara secara lebih luas. Hal ini terjadi di saat Amerika Serikat sendiri sedang memperketat aturan terkait komponen dan kendaraan yang melintasi perbatasan Kanada guna memastikan tidak ada produk China yang “menumpang” melalui jalur perdagangan bebas regional.
Dalam sebuah kunjungan kerja ke pabrik Ford di Ohio, Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan Ottawa. Duffy memprediksi bahwa Kanada akan segera menyadari konsekuensi negatif dari membiarkan kendaraan China masuk ke pasar domestik mereka.
“Saya pikir mereka akan melihat kembali keputusan ini dan tentu saja akan menyesal telah membawa mobil China ke pasar mereka,” tegas Duffy pada Minggu (18/1/2026). Pernyataan Duffy ini didukung oleh Direktur EPA, Lee Zeldin, yang bersama-sama sedang mempromosikan upaya pemerintah untuk menekan biaya kendaraan bagi konsumen AS tanpa harus mengandalkan produk dari negara rival.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Meski ia meyakini jumlah impor yang terbatas di Kanada tidak akan langsung mengganggu ekspor mobil AS ke Kanada, ia melihat adanya masalah mendasar dalam filosofi perdagangan tersebut.
“Ada alasan kuat mengapa kami tidak menjual banyak mobil China di AS. Kami mengenakan tarif tinggi untuk melindungi pekerja otomotif dan konsumen kami dari praktik perdagangan yang tidak adil,” ujar Greer dalam wawancara dengan CNBC.
Kritik ini muncul di tengah upaya Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, yang mencoba melakukan diplomasi dagang dengan Beijing. Kanada berharap China akan mengurangi tarif pada komoditas kanola asal Kanada sebagai imbal balik dari pelonggaran masuknya kendaraan listrik. Namun, Greer merasa skeptis bahwa kesepakatan jangka pendek tersebut akan menguntungkan Kanada. Ia menilai bahwa dalam jangka panjang, Kanada justru akan terjebak dalam ketergantungan industri yang merugikan.
Selain isu tarif, Amerika Serikat menggunakan aspek keamanan siber sebagai benteng pertahanan. Peraturan yang dikeluarkan pada Januari 2025 menetapkan standar ketat bagi kendaraan yang terhubung ke internet (connected vehicles). Sistem navigasi dan sensor pada mobil listrik China dianggap sebagai ancaman keamanan nasional karena potensi pengumpulan data oleh pemerintah asing.
“Amerika Serikat memiliki regulasi keamanan siber yang sangat ketat. Saya rasa pihak China akan sangat sulit memenuhi persyaratan teknis kami untuk bisa masuk ke pasar ini,” tambah Greer. Saat ini, produk China yang berharga murah memang telah membanjiri pasar di Eropa, Amerika Selatan, dan Afrika, yang secara serius mengancam eksistensi merek-merek otomotif tradisional.
Menariknya, di dalam negeri AS sendiri terdapat perbedaan pandangan. Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menyatakan keterbukaan jika produsen otomotif China ingin membangun pabrik di wilayah AS demi menciptakan lapangan kerja lokal. Namun, gagasan ini ditentang keras oleh anggota parlemen dari kedua partai (Republik dan Demokrat).
Senator Ohio dari Partai Republik, Bernie Moreno, menegaskan sikap garis kerasnya yang mendapat dukungan luas dari para pekerja otomotif di Ohio. “Selama saya masih bernapas, tidak akan ada satu pun mobil China yang akan dijual di Amerika Serikat,” ujar Moreno yang disambut tepuk tangan riuh.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah Kanada. Apakah mereka akan tetap melanjutkan kuota impor tersebut demi keuntungan komoditas pertanian, atau mereka akan mendengarkan peringatan dari tetangga terdekat sekaligus mitra ekonomi terbesar mereka demi menjaga stabilitas industri otomotif Amerika Utara secara keseluruhan.






