Musim badai tahun ini menunjukkan pola yang tidak biasa. Dari 10 topan yang terbentuk sejak awal 2025, tujuh di antaranya termasuk Topan Matmo bergerak ke arah utara, menuju kawasan Vietnam bagian utara hingga perbatasan dengan Tiongkok. Fenomena ini memicu pertanyaan: mengapa jalur badai lebih condong ke utara dibandingkan biasanya?
Dominasi Tekanan Tinggi dan Udara Dingin
Secara klimatologis, badai di bulan Oktober biasanya terbentuk di timur Filipina, lalu bergerak barat laut melintasi Luzon menuju Laut Cina Selatan, kemudian menghantam wilayah tengah Vietnam. Arah ini dipengaruhi oleh tekanan tinggi subtropis yang berada di lintang 25–35 derajat serta dorongan udara dingin dari utara.
Namun, kondisi tahun ini berbeda. Menurut Pusat Peramalan Hidrometeorologi Nasional, dominasi tekanan tinggi subtropis justru bergeser ke barat laut dan melemah ke selatan. Pada saat yang sama, massa udara dingin dari utara tidak cukup kuat untuk menekan badai ke arah tengah. Kombinasi inilah yang membuat Matmo dan beberapa badai lainnya bergerak ke utara.
Pola yang Pernah Terjadi di Tahun-Tahun Sebelumnya
Ahli meteorologi, Dr. Truong Ba Kien dari Institut Ilmu Hidrometeorologi dan Perubahan Iklim, menjelaskan bahwa pola badai ke utara bukanlah hal baru. Data 40 tahun terakhir menunjukkan ada jalur sekunder yang membawa badai dari timur Filipina menuju Pulau Hainan atau Semenanjung Leizhou, lalu masuk ke Teluk Tonkin.
Beberapa contoh serupa pernah terjadi:
-
Topan Sarika (2016) melintasi Luzon, menghantam Hainan, dan membawa hujan lebat ke Vietnam utara.
-
Topan Khanun (2017) berkembang di Laut Cina Selatan bagian utara, lalu memicu gelombang besar di Teluk Tonkin.
-
Topan Nesat (2011) juga bergerak ke utara setelah melewati Filipina, menyebabkan curah hujan ekstrem di Vietnam bagian utara.
Ancaman dari Topan Matmo
Dengan pergerakan ke utara, Topan Matmo diperkirakan menimbulkan dua ancaman utama. Pertama adalah angin kencang di laut dan pesisir, dengan kecepatan mencapai level 9–10 di Teluk Tonkin. Daerah seperti Quảng Ninh dan Hải Phòng diperkirakan mengalami hembusan angin hingga setara badai tropis.
Kedua adalah curah hujan tinggi berskala luas. Pada 5–6 Oktober, wilayah timur laut Vietnam diprediksi diguyur hujan 100–200 mm, bahkan lebih dari 250 mm di beberapa titik. Kondisi ini berpotensi memicu banjir, tanah longsor, dan genangan di kawasan perkotaan, terutama karena wilayah utara sebelumnya sudah terdampak badai Bualoi.
Para ahli meteorologi menekankan pentingnya mitigasi dini. Pemerintah daerah disarankan segera mengidentifikasi lokasi rawan banjir bandang dan longsor, sekaligus mengevakuasi warga di pesisir serta dataran rendah. Waduk dan bendungan perlu diatur secara hati-hati untuk mencegah pelepasan air yang membahayakan daerah hilir.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan:
-
mematuhi instruksi evakuasi,
-
menghindari aktivitas di sungai saat hujan deras,
-
memperkuat rumah serta menyelamatkan aset dan hasil pertanian,
-
serta selalu memantau informasi resmi dari lembaga hidrometeorologi.
Pergeseran jalur badai ke arah utara tahun ini dipicu oleh anomali tekanan tinggi subtropis dan lemahnya dorongan udara dingin. Meski bukan pola baru, frekuensi badai ke utara dalam satu musim tergolong tinggi. Dampaknya tidak hanya terasa di laut, tetapi juga mengancam wilayah daratan dengan banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur.
Kesigapan pemerintah dan kedisiplinan masyarakat dalam mengikuti arahan evakuasi akan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan Topan Matmo maupun badai lain di sisa musim ini.






